Di tengah kekhawatiran masyarakat akan dampak konflik global terhadap harga energi, pemerintah membawa angin segar. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada rencana untuk menaikkan harga BBM subsidi.
Menurut Purbaya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih berada dalam posisi yang “sakti” dan kuat untuk menopang beban subsidi, meskipun harga minyak dunia mulai merangkak naik melebihi asumsi awal sebesar US$ 70 per barel.
“Kita masih aman, masih kuat. Kenaikan harga (global) ini kan baru berlangsung beberapa hari, sementara hitungan kita untuk setahun penuh. Belum cukup alasan untuk mengubah postur anggaran kita,” tegas Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (10/3/2026).
Jaminan Hingga Hari Raya
Senada dengan Menkeu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan bahwa hasil koordinasi lintas kementerian menyepakati satu hal penting: tidak ada kenaikan harga BBM subsidi, setidaknya sampai Hari Raya Lebaran 1447 H. Langkah ini diambil sebagai bentuk kehadiran negara untuk menjaga daya beli masyarakat di momen krusial tersebut.
“Insya Allah sampai hari raya tidak ada kenaikan apa-apa. Sekalipun harga minyak mentah dunia bergejolak, pemerintah memastikan harga minyak subsidi tetap sama,” ujar Bahlil.
Stok Melimpah, Stop Panic Buying
Bahlil juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terjebak dalam aksi borong atau panic buying. Ia menjelaskan bahwa ketahanan stok BBM nasional saat ini berada di level aman, yakni berkisar 21 hingga 25 hari, dan terus diperbarui setiap harinya.
“Stok kita sangat cukup. Angka 21-25 hari itu adalah kapasitas penyimpanan kita yang terus berputar—ada yang keluar, ada yang masuk lagi. Industri kita jalan terus,” tambahnya.
Terkait pasokan, Bahlil menekankan bahwa Indonesia tidak memiliki kendala impor yang berarti. Meskipun terjadi ketegangan di Timur Tengah, Indonesia hanya mengimpor minyak mentah (crude) dari kawasan tersebut. Sementara untuk produk minyak jadi (BBM siap pakai), pasokan utama berasal dari negara-negara Asia Tenggara serta hasil produksi kilang dalam negeri yang tetap stabil.