WASHINGTON, AS – Ribuan prajurit Amerika Serikat dilaporkan berbondong-bondong mencari jalan keluar untuk menghindari penugasan perang melawan Iran. Organisasi nirlaba Center on Conscience & War menyebut saluran bantuan mereka lumpuh akibat lonjakan permintaan yang tak terbendung.
Center on Conscience & War, lembaga yang telah berusia 80 tahun dan mengadvokasi hak hati nurani bagi penolak perang, mengungkapkan bahwa telepon mereka “terus berdering” sejak konflik dengan Iran memanas. Para prajurit yang menghubungi umumnya menanyakan opsi hukum untuk tidak dikerahkan, termasuk memanfaatkan peraturan yang memungkinkan pemecatan dini karena “kegagalan beradaptasi” dalam masa dinas awal .
“Telepon terus berdering. Jauh lebih banyak unit yang baru saja diaktifkan untuk dikerahkan daripada yang diketahui publik,” tulis Direktur Eksekutif Center on Conscience & War, Mike Prysner, dalam unggahan di platform X, Selasa (10/3/2026) .
Prysner juga mengungkapkan pengalaman mengharukan saat berbicara dengan ibu seorang prajurit yang unitnya akan diterjunkan. “Mereka diberi satu kesempatan terakhir untuk menelepon ke rumah sebelum menyerahkan ponsel mereka. Dia memberi tahu ibunya bahwa mereka akan pergi dengan ‘boots on the ground’ malam ini,”ungkap Prysner .
Media Sosial Sensor Informasi Hak Prajurit
Menariknya, di tengah tingginya permintaan bantuan, akun X milik Center on Conscience & War justru mengalami pemblokiran selama 12 jam. Platform tersebut menuding organisasi itu melanggar aturan terkait “perilaku ilegal dan teregulasi” .
Padahal, postingan yang menyebabkan pemblokiran hanya berisi informasi tentang hak hukum prajurit di bawah DoDI 1332.14 untuk melaporkan “kegagalan beradaptasi” dalam 365 hari pertama dinas dan menerima pemecatan tingkat awal .
Komentator konservatif Candace Owens juga mendorong penolakan berdasarkan hati nurani, namun menuai reaksi keras. Jurnalis pro-Israel Emily Schrader menyebut tindakan tersebut sebagai hasutan mutiny yang dapat dihukum hingga 10 tahun penjara berdasarkan 18 U.S.C. § 2387 .
Prajurit Murka atas Serangan Sekolah di Iran
Salah satu pemicu utama keberatan moral di kalangan militer adalah serangan terhadap sebuah sekolah perempuan di kota Minab, Iran selatan. Serangan yang diduga melibatkan AS dan Israel itu dilaporkan menewaskan sedikitnya 165 orang, yang sebagian besar adalah siswi .
Seorang prajurit yang menghubungi Center on Conscience & War mengungkapkan kemarahan atas insiden tersebut. Ia juga melaporkan adanya penentangan luas terhadap rencana perang di dalam unitnya, dan berjanji akan membagikan nomor kontak organisasi itu kepada seluruh anggota unit .
Situasi di lapangan semakin mencekam. Seorang anggota Marinir yang ditempatkan di California melaporkan kepada keluarganya bahwa separuh pasukan di pangkalan telah “menghilang” dalam beberapa hari terakhir, dan situasi disebutnya kacau balau .
Korban Berjatuhan, Ancaman Perang Darat Membayang
Hingga saat ini, jumlah personel militer AS yang tewas dalam konflik dengan Iran terus bertambah. Central Command (CENTCOM) mengonfirmasi sedikitnya enam prajurit tewas dalam serangan balasan Iran yang menargetkan fasilitas militer AS di kawasan Teluk . Sumber lain menyebutkan angka tersebut telah mencapai tujuh prajurit .
Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dalam wawancara dengan CBS News, mengakui bahwa **”akan ada lebih banyak korban”. Ia juga menegaskan bahwa pemerintah **”mencadangkan hak”** untuk mengirim pasukan darat ke Iran, meskipun saat ini belum ada keputusan final .
Sementara itu, Presiden Donald Trump dalam wawancara dengan Time magazine tidak menutup kemungkinan adanya serangan balasan di wilayah AS. “Saat Anda berperang, beberapa orang akan mati,”*ujarnya .
Di tengah eskalasi ini, jajak pendapat CNN yang dilakukan SSRS menunjukkan bahwa 60 persen warga Amerika meragukan kemampuan Trump mengambil keputusan tepat terkait penggunaan kekuatan di Iran, dan 62 persen menilai ia memerlukan persetujuan Kongres . Sebanyak enam dari sepuluh warga AS juga menyatakan tidak menyetujui serangan terhadap Iran .
Di dalam negeri, gelombang protes meluas. Lebih dari 100 pengunjuk rasa berkumpul di Iowa Capitol pada 2 Maret, bergabung dengan aksi nasional menentang “perang tanpa akhir untuk perubahan rezim” . Protes serupa juga terjadi di Chicago, di mana veteran Daniel Lakemacher menyerukan prajurit AS untuk **”menolak perang ilegal dan tidak bermoral ini”.
“Kepada mereka yang belum dikerahkan: sekaranglah saatnya untuk melawan,”seru Lakemacher dalam rally tersebut .