JAKARTA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump meminta negara-negara sekutu untuk mengirimkan kapal perang demi mengamankan Selat Hormuz yang diblokir Iran, imbas konflik AS–Israel melawan Iran.
Seperti dilaporkan Reuters, Senin (16/3/2026), Trump menyerukan pembentukan koalisi internasional guna membuka kembali jalur vital tersebut. Ia menekankan bahwa negara-negara yang bergantung pada minyak Teluk memiliki tanggung jawab menjaga Selat Hormuz, jalur yang dilalui 20 persen pasokan energi global. “Saya menuntut agar negara-negara ini datang dan melindungi wilayah mereka karena itu adalah wilayah mereka. Itu merupakan tempat di mana mereka mendapatkan energi mereka,” kata Trump kepada wartawan di Air Force One.
Trump menyebut pemerintahannya telah menghubungi tujuh negara, tanpa merinci nama. Namun dalam unggahan media sosial, ia berharap China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara lain ikut berpartisipasi.
Pasar Asia merespons hati-hati pada Senin, dengan harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 100 persen ke atas US$104,50 per barel, sementara bursa saham regional melemah setelah komentar Trump.
Jepang dan Australia Tegas Menolak
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan negaranya tidak memiliki rencana mengirim kapal angkatan laut ke Timur Tengah. “Kami belum membuat keputusan apa pun tentang pengiriman kapal-kapal pengawal. Kami terus meneliti apa yang dapat dilakukan Jepang secara independen dan apa yang dapat dilakukan dalam kerangka hukum,” ujarnya di parlemen.
Australia juga menolak. Menteri Catherine King menyatakan bahwa meski memahami pentingnya Selat Hormuz, negaranya tidak akan mengirim kapal perang. “Kami tahu betapa pentingnya hal tersebut, tetapi itu bukan sesuatu yang diminta kepada kami atau yang kami bantu,” tegasnya dalam wawancara dengan ABC.