RIYADH, ARAB SAUDI – Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), secara terbuka mendesak Presiden AS Donald Trump untuk tidak mengendurkan tekanan maksimum terhadap Iran. Desakan keras ini langsung menjadi sorotan utama rubrik Global, di tengah konflik berkepanjangan antara AS-Israel dan Teheran.
Laporan eksklusif The New York Times pada Minggu (15/3/2026) mengungkap bahwa komunikasi MBS-Trump berlangsung di saat eskalasi militer di perairan Teluk mencapai titik didih. Sejumlah pejabat Gedung Putih membenarkan bahwa putra mahkota itu mendorong pendekatan agresif guna membendung pengaruh Teheran di kawasan.
“Putra Mahkota menekankan perlunya memukul Iran dengan keras agar stabilitas regional dapat terjamin,” tulis The New York Times mengutip sumber internal Istana Kepresidenan AS.
Namun sikap keras Riyadh dan Washington itu langsung mendapat perlawanan sengit dari Teheran. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dengan tegas menolak ajakan dialog baru. Ia menuding serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari sebagai biang kerok hancurnya kepercayaan Iran terhadap Barat.
“Kami tidak lagi melihat urgensi untuk membuka jalur dialog dengan Washington,” tegas Araghchi kepada AFP, merujuk pada serangan yang menewaskan sejumlah personel militer Iran di pinggiran ibu kota.