KALIMANTAN TIMUR – Penemuan spesies baru selalu menjadi kabar menggembirakan dalam dunia ilmu pengetahuan, terlebih jika berasal dari kekayaan hayati Indonesia. Pada awal 2026, tim ilmuwan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Bengkulu berhasil mengungkap identitas baru bunga langka yang selama puluhan tahun menjadi misteri. Bunga tersebut kini resmi dinamai Rafflesia harjatii, sebuah spesies baru dari kelompok bunga bangkai yang ditemukan di pedalaman hutan Sepaku, Kalimantan Timur.
Penemuan ini bukanlah hasil penelitian singkat. Keberadaan bunga tersebut sebenarnya telah terpantau sejak era 1980-an di kawasan konservasi setempat. Namun, pada saat itu, para peneliti belum dapat memastikan apakah bunga tersebut merupakan spesies yang sudah dikenal atau jenis baru. Kesamaan morfologi dengan beberapa spesies Rafflesia lain di kawasan Asia Tenggara membuat identifikasi menjadi sangat kompleks.
Baru setelah dilakukan penelitian lanjutan yang mencakup analisis morfologi mendalam serta uji molekuler berbasis DNA, identitas bunga ini akhirnya terpecahkan. Hasil riset yang dipublikasikan pada Januari 2026 dalam jurnal ilmiah menunjukkan bahwa bunga tersebut memiliki perbedaan genetik yang signifikan dibandingkan spesies Rafflesia lainnya. Temuan ini sekaligus menegaskan bahwa Rafflesia harjatii merupakan entitas biologis yang benar-benar baru.
Secara morfologi, Rafflesia harjatii memiliki sejumlah ciri khas yang membedakannya dari kerabat dekatnya. Diameter bunganya relatif kecil, berkisar antara 17 hingga 22 sentimeter, menjadikannya salah satu Rafflesia berukuran mini. Selain itu, bunga ini memiliki pola bercak putih yang lebih jarang, diafragma yang tebal, serta struktur ramenta berbentuk silindris yang unik. Kombinasi karakter ini tidak ditemukan pada spesies lain yang telah dideskripsikan sebelumnya.
Keunikan lain dari spesies ini terletak pada struktur internal bunganya, termasuk jumlah dan bentuk bagian reproduktif yang berbeda. Para peneliti juga mencatat bahwa rasio antara bukaan (aperture) dan diafragma menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan spesies yang paling mirip, seperti Rafflesia dari wilayah Sabah, Malaysia. Hal ini semakin memperkuat statusnya sebagai spesies baru yang berdiri sendiri dalam klasifikasi ilmiah.
Rafflesia harjatii juga memiliki karakteristik ekologis yang menarik. Seperti anggota genus Rafflesia lainnya, bunga ini merupakan tumbuhan parasit yang sepenuhnya bergantung pada inang dari genus Tetrastigma untuk memperoleh nutrisi. Tanpa daun, batang, atau akar sejati, kehidupannya tersembunyi di dalam jaringan tanaman inang hingga akhirnya muncul sebagai bunga besar yang mekar dalam waktu singkat.
Namun, di balik keunikannya, spesies ini menghadapi tantangan besar dari sisi konservasi. Hingga saat ini, Rafflesia harjatii hanya diketahui tumbuh di satu lokasi terbatas di Kalimantan Timur. Populasinya yang kecil dan penyebaran yang sempit membuatnya rentan terhadap perubahan lingkungan, baik akibat aktivitas manusia maupun faktor alami seperti curah hujan tinggi dan gangguan habitat.
Keberadaan bunga ini di kawasan konservasi memang memberikan sedikit perlindungan, tetapi para ilmuwan menegaskan bahwa upaya pemantauan jangka panjang tetap diperlukan. Penelitian lanjutan juga direncanakan untuk mengetahui kemungkinan adanya populasi lain di wilayah sekitar, sekaligus memperbarui data sebaran spesies ini secara lebih komprehensif.
Penemuan Rafflesia harjatii menjadi bukti nyata bahwa hutan Indonesia masih menyimpan banyak misteri yang belum terungkap. Di tengah ancaman deforestasi dan perubahan iklim, temuan ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga ekosistem alami sebagai rumah bagi keanekaragaman hayati yang luar biasa.
Lebih dari sekadar penambahan daftar spesies baru, keberhasilan identifikasi ini menunjukkan kemajuan riset ilmiah Indonesia, khususnya dalam pemanfaatan teknologi analisis DNA. Dengan pendekatan ilmiah yang semakin maju, peluang untuk mengungkap kekayaan biodiversitas Nusantara di masa depan pun menjadi semakin besar.