JAKARTA – Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi dijadwalkan bertemu Presiden AS, Donald Trump di Gedung Putih pada Kamis (19/3/2026). Pertemuan ini menjadi ujian berat bagi aliansi keamanan kedua negara, karena Trump diperkirakan akan menekan Tokyo agar mendukung perang Washington melawan Iran.
Takaichi menjadi pemimpin sekutu besar pertama yang berbicara langsung dengan Trump sejak ia menuntut agar Jepang dan negara lain mengirim kapal pengawal ke Selat Hormuz, jalur vital energi dunia yang sebagian besar ditutup Iran. “Takaichi berada dalam posisi yang sangat sulit,” kata David Boling dari The Asia Group dilansir Reurters, Rabu (18/3/2026). “Risiko terbesar adalah Trump secara terbuka menekannya untuk memberikan komitmen keamanan yang tidak bisa ia penuhi.”
Pejabat Jepang menyebut Takaichi awalnya ingin menekankan ancaman China dalam kunjungan yang semula dijadwalkan akhir Maret. Namun kini fokus bergeser ke tuntutan Trump soal Iran. Jepang belum menerima permintaan resmi, tetapi sedang menimbang langkah sesuai batas konstitusi pacifisnya. Dukungan publik terhadap serangan AS-Israel terhadap Iran sangat rendah, kurang dari 10 persen menurut jajak Asahi.
AS Tagih Jepang
Trump kerap menyoroti Jepang yang bergantung pada AS untuk pertahanan dan pasokan minyak melalui Selat Hormuz. Sekitar 90 persen impor minyak Jepang melewati jalur tersebut. Tokyo sebelumnya hanya menawarkan dukungan logistik dan intelijen, sementara pengerahan kapal perang dinilai bermasalah secara hukum dan politik. “Hal ini telah berubah menjadi pembicaraan yang mengguncang fondasi aliansi keamanan Jepang–AS,” kata Kazuhiro Maeshima dari Universitas Sophia.
Trump memiliki pengaruh besar terhadap Jepang, mulai dari keberadaan 50.000 pasukan AS di negeri itu hingga kebijakan tarif yang memaksa investasi miliaran dolar. Jika Jepang bergabung, tekanan terhadap negara lain akan meningkat. Namun jika menolak, Trump bisa menjadikannya contoh.
Tokyo berharap isu China tetap masuk agenda, termasuk kerja sama mineral penting dan sistem pertahanan rudal Golden Dome. Namun, dengan fokus Trump pada Iran, Jepang berupaya mencari tawaran alternatif, seperti menjadi perantara dengan Tehran. “Trump kemungkinan akan menyampaikan permintaan yang sangat spesifik kepada Takaichi, yang hanya bisa dijawab dengan ‘ya’ atau ‘tidak’,” kata Kurt Campbell, mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS. “Ini adalah momen yang sangat berbahaya secara politik.”