Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah drastis dengan menghentikan sementara (suspend) operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bogor Ranca Bungur Bantarjaya 2 terhitung sejak 18 Maret 2026. Keputusan ini diambil setelah unit tersebut terbukti melakukan pelanggaran berat dengan menggunakan area masjid sebagai tempat pembilasan bahan makanan tanpa izin.
Tindakan tersebut dinilai tidak hanya melanggar prosedur operasional standar (SOP), tetapi juga dianggap mengganggu fasilitas umum dan mencederai etika terhadap tempat ibadah.
“Ini bukan sekadar pelanggaran prosedur, melainkan juga merusak nilai kesucian dan kebersihan fasilitas ibadah yang harus dijaga. SPPG seperti ini tidak bisa ditoleransi,” tegas Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat (20/3/2026).
Menjaga Standar Mutu Pangan
Keputusan pembekuan ini merujuk pada Petunjuk Teknis Tata Kelola Penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Tahun Anggaran 2026. Laporan khusus dari Koordinator Wilayah Kabupaten Bogor mengonfirmasi adanya dugaan kuat pelanggaran prosedur yang berpotensi menurunkan kualitas keamanan pangan.
“Tujuan kami jelas: menjaga kualitas produksi, mutu gizi, dan keamanan pangan. Setiap tindakan yang berisiko menurunkan standar ini harus segera ditindak tegas,” tambah Nanik.
Syarat Ketat untuk Kembali Beroperasi
Selama masa suspensi, SPPG Ranca Bungur Bantarjaya 2 diwajibkan melakukan perbaikan total pada sarana dan prasarana mereka. Selain itu, mereka harus menyerahkan dokumen pendukung yang sah kepada Direktorat Pemantauan dan Pengawasan Wilayah II BGN untuk proses verifikasi ulang.
Status operasional hanya akan dipulihkan jika seluruh standar kelayakan telah terpenuhi tanpa celah. BGN menekankan bahwa insiden ini menjadi peringatan keras bagi seluruh satuan pelayanan di Indonesia agar memprioritaskan kebersihan, kepatuhan aturan, dan penghormatan terhadap fasilitas masyarakat.
“Pencabutan status pemberhentian hanya dilakukan setelah verifikasi selesai. Tidak ada kompromi bagi prosedur yang diabaikan,” tutup Nanik dengan nada tegas.