Borok tata kelola di tubuh salah satu perusahaan pelat merah tertua di Indonesia akhirnya terbongkar. Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia secara mengejutkan mengumumkan temuan berbagai persoalan keuangan dan karut-marut tata kelola yang telah menumpuk selama bertahun-tahun di PT Pos Indonesia. Lebih mengejutkan lagi, Danantara secara terang-terangan menyebut adanya indikasi dugaan rekayasa keuangan (manipulasi laporan keuangan) di dalam internal korporasi.
Temuan mencengangkan ini berhasil diungkap ke publik setelah Danantara melakukan proses uji tuntas (due diligence) dan evaluasi makro secara menyeluruh. Menariknya, bom waktu ini meledak tepat setelah Daud Joseph mendadak mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Direktur Utama (Dirut) PT Pos Indonesia.
Tindakan Tegas: Audit Investigasi Resmi Digelar
Manajemen Danantara memastikan tidak akan tinggal diam dan siap membawa kasus ini ke ranah hukum jika terbukti ada pelanggaran pidana korporasi.
Rohan menekankan bahwa Danantara berkomitmen penuh untuk melakukan “bersih-bersih” secara agresif. Tidak akan ada ruang toleransi bagi praktik kotor yang merusak tata kelola perusahaan milik negara. Prioritas utama institusi saat ini adalah menyembuhkan neraca keuangan PT Pos agar kembali akuntabel, sehat, dan berintegritas tinggi.
Plot Twist: Di Balik Mundurnya Sang Dirut secara Mendadak
Guncangan di tubuh PT Pos Indonesia semakin dramatis setelah Daud Joseph secara resmi menanggalkan jabatan Dirut-nya pada Kamis, 2 Juli 2026 kemarin. Surat pengunduran diri tersebut sejatinya telah diserahkan kepada Danantara sejak Senin (29/6/2026).
Padahal, Daud Joseph awalnya sengaja ditugaskan oleh pemegang saham untuk memimpin reformasi besar-besaran pada aspek keuangan, operasional, dan organisasi perusahaan. Namun, setelah turun langsung ke lapangan dan melihat skala kerusakan yang terjadi, Daud memilih mundur.
Alasan Utama Mundurnya Dirut:
-
Masalah Terlalu Kompleks: Berdasarkan asesmen mandiri, Daud Joseph menilai PT Pos Indonesia membutuhkan perombakan total (revamp) yang sangat radikal dan fundamental.
-
Butuh Ahli Spesifik: Dengan kompleksitas persoalan keuangan menahun yang dihadapinya, Daud merasa agenda restrukturisasi ke depan membutuhkan figur pemimpin dengan keahlian (expertise) yang jauh lebih spesifik demi memimpin fase transformasi berikutnya.