JAKARTA — Gelombang protes besar-besaran kembali mengguncang Amerika Serikat pada Sabtu (28/2/2026).
Jutaan warga dari berbagai latar belakang turun ke jalan secara serentak di seluruh 50 negara bagian, menjadikan aksi bertajuk “No Kings” ini salah satu demonstrasi terbesar dalam sejarah modern Amerika.
Dari pantai timur hingga pantai barat, jalanan kota-kota besar seperti New York, Los Angeles, dan ibu kota Washington D.C. dipenuhi lautan manusia yang menyuarakan keresahan mereka terhadap arah kebijakan pemerintah federal.
Suasana yang semula hening di akhir pekan berubah riuh oleh orasi, nyanyian, dan teriakan massa yang menuntut perubahan.
Berikut lima fakta aksi tersebut yang dirangkum dari berbagai sumber:
1. Di Balik Aksi No Kings
Unjuk rasa ini tidak muncul begitu saja. Sejumlah kelompok sipil berskala nasional maupun lokal berada di balik penyelenggaraannya, di antaranya koalisi progresif Indivisible, 50501, dan MoveOn.
Mengutip New York Times, aksi ini dirancang inklusif dan terbuka bagi siapa saja, tanpa batasan usia maupun latar belakang.
Mekanismenya pun terbilang terbuka, siapa pun bisa mendaftar sebagai penyelenggara di wilayah masing-masing.
Guna memastikan ketertiban, panitia juga menggelar pelatihan daring seputar keselamatan dan keamanan bagi para relawan penyelenggara.
2. Tujuan Aksi
Alih-alih memusatkan diri pada satu agenda, “No Kings” sengaja dirancang sebagai wadah bagi beragam keluhan masyarakat terhadap pemerintah federal.
Isu-isu yang sebelumnya mengemuka mencakup kebijakan imigrasi yang dianggap represif, persoalan hak pilih, hingga tingginya biaya layanan kesehatan.
Namun pada aksi kali ini, satu tema tampak mendominasi, yakni penolakan terhadap keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik bersenjata di Iran.
3. Figur Publik yang Terlibat
Aksi ini turut menyedot perhatian sejumlah nama besar dari dunia hiburan dan seni.
Aktor kawakan Robert De Niro dan Jane Fonda, rocker legendaris Bruce Springsteen, serta penyanyi folk Joan Baez tercatat hadir dan ikut memimpin jalannya demonstrasi di beberapa kota.
Di New York, De Niro berjalan berdampingan dengan tokoh aktivis Al Sharpton dan Jaksa Agung negara bagian Letitia James.
Dikutip dari Tribune, De Niro menyebut kehadiran massa yang membludak itu sebagai bukti nyata bahwa jutaan warga telah menyambut seruan aksi dengan luar biasa.
4. Bukan yang Pertama Kali
Ini bukan kali pertama slogan “No Kings” bergema di jalanan Amerika.
Pada Juni 2025, gelombang protes pertama meletus tepat saat pemerintahan Trump menggelar parade militer di Washington.
Kala itu aksi tersebut dimaknai sebagai bentuk pembangkangan sipil terhadap kebijakan yang dianggap melampaui batas.
Momentum berlanjut pada 18 Oktober 2025, ketika No Kings Day digelar serentak di seluruh 50 negara bagian dan berhasil memobilisasi lebih dari tujuh juta orang ke jalanan.
5. Seruan “End This War” Menggema
Di tengah lautan massa, satu teriakan terdengar berulang kali, “End This War” atau “Hentikan Perang Ini”.
Slogan itu bukan sekadar yel-yel, melainkan cerminan kegelisahan publik yang kian mendalam atas eskalasi konflik di Iran yang melibatkan Amerika Serikat.
Aksi ini menjadi sinyal kuat bahwa tekanan dari bawah terhadap kebijakan luar negeri pemerintah terus menguat.***