CIMAHI – Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menegaskan negara hadir untuk menjamin seluruh hak keluarga prajurit yang gugur saat menjalankan misi perdamaian dunia dalam operasi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Penegasan itu disampaikan Agus usai melayat ke rumah duka Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar di Cimahi, Jawa Barat, Rabu. Ia memastikan bahwa seluruh prajurit TNI yang gugur dalam Satgas Kontingen Garuda akan mendapatkan penghargaan dan jaminan kesejahteraan bagi ahli warisnya.
“Yang pertama akan diberikan KPLB (Kenaikan Pangkat Luar Biasa) kepada seluruhnya, dan kemudian hak-hak yang lain dari Asabri (asuransi) mungkin Rp350 juta akan diberikan,” ujar Agus.
Selain santunan asuransi, TNI juga menjamin keberlanjutan pendidikan anak-anak prajurit yang ditinggalkan. Negara, kata Agus, menyiapkan dukungan beasiswa serta pendampingan pendidikan hingga anak mencapai usia dewasa.
“Beasiswa pendidikan sebesar Rp30 juta untuk anak almarhum, dan akan kita kawal sampai dewasa,” katanya.
Dari sisi kesejahteraan, TNI turut memberikan jaminan tambahan berupa gaji penuh selama satu tahun ke depan bagi keluarga yang ditinggalkan. Hak lainnya seperti tabungan hari tua juga akan tetap diberikan sesuai masa pengabdian prajurit sejak awal berdinas.
Agus menekankan bahwa langkah ini merupakan bentuk tanggung jawab negara atas pengorbanan prajurit yang gugur dalam menjaga perdamaian dunia.
Terkait proses pemulangan jenazah, Panglima TNI menyatakan saat ini tengah dilakukan koordinasi intensif agar para prajurit dapat segera dimakamkan di tanah air.
“Akan segera kita urus pemulangan ke Indonesia. Sedang diurus oleh Komandan PMPP (Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian),” ucapnya.
Sementara itu, sejumlah prajurit TNI lain yang mengalami luka dalam insiden tersebut telah mendapatkan perawatan medis di Lebanon. Agus memastikan kondisi mereka terus dipantau dan ditangani secara optimal.
“Sudah ada di rumah sakit, sudah dirawat dengan baik, dan kita doakan semuanya cepat pulih,” tuturnya.
Sebelumnya, tiga personel TNI yang tergabung dalam misi UNIFIL dilaporkan gugur saat bertugas di wilayah Lebanon pada akhir Maret 2026.
Berdasarkan data TNI, ketiganya adalah Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon, Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, dan Kapten (Inf) Zulmi Aditya Iskandar.
Farizal dilaporkan meninggal dunia akibat serangan artileri tidak langsung di sekitar Adchit Al Qusayr, Lebanon selatan, pada Minggu (29/3). Sementara itu, dua prajurit lainnya, Nur Ichwan dan Zulmi, gugur akibat ledakan kendaraan di dekat Bani Haiyyan sehari setelahnya.
Peristiwa ini kembali menegaskan tingginya risiko yang dihadapi prajurit Indonesia dalam menjalankan misi penjaga perdamaian dunia di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pemerintah pun memastikan komitmen penuh untuk memberikan penghormatan sekaligus perlindungan maksimal bagi keluarga yang ditinggalkan.