Operasi penyelamatan dramatis baru saja terjadi di jantung wilayah Iran. Militer Amerika Serikat berhasil mengevakuasi kru jet tempur F-15 yang jatuh di Iran Selatan setelah melewati masa kritis selama lebih dari 24 jam di pegunungan yang mencekam.
Presiden Donald Trump mengonfirmasi keberhasilan militer Amerika Serikat dalam menjalankan salah satu operasi pencarian dan penyelamatan tempur (Combat Search and Rescue/CSAR) paling berani dalam sejarah. Seorang perwira berpangkat Kolonel, yang sempat hilang setelah jet F-15 miliknya ditembak jatuh di Iran Selatan pada Jumat lalu, kini telah dinyatakan aman.
“Dia sekarang selamat dan sehat!” tulis Trump melalui akun media sosialnya, Minggu (5/4/2026) pagi waktu setempat.
Pelarian 24 Jam di Pegunungan “Maut”
Kisah penyelamatan ini bak film aksi Hollywood. Sang pilot dilaporkan sempat melontarkan diri (eject) dari pesawat sebelum jatuh dan mendarat di pegunungan terjal Iran Selatan. Selama lebih dari 24 jam, perwira tersebut harus bertahan hidup sendirian, hanya berbekal sebuah pistol, sambil bersembunyi dari kejaran pasukan Iran yang terus mendekat setiap jamnya.
Pejabat senior mengungkapkan bahwa lokasi sang pilot dipantau nonstop selama 24 jam oleh tim khusus di Washington sementara operasi penyelamatan disusun secara matang.
Peran Krusial CIA dan Taktik Pengalihan
Keberhasilan misi ini tak lepas dari peran intelijen pusat Amerika (CIA). CIA dilaporkan berhasil melacak posisi pasti sang pilot yang bersembunyi di celah pegunungan dan meneruskan koordinat tersebut ke Pentagon.
Tak hanya itu, CIA juga menjalankan kampanye deceptions (pengalihan) di dalam wilayah Iran. Saat proses evakuasi berlangsung, agen-agen menyebarkan rumor bahwa sang pilot sudah ditemukan di lokasi lain guna mengecoh pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC).
Operasi ini melibatkan puluhan pesawat militer AS yang merangsek masuk ke wilayah udara Iran. Laporan menyebutkan sempat terjadi kontak senjata antara pasukan AS dan Iran selama proses evakuasi. Meskipun Iran mengklaim berhasil menembak jatuh sebuah drone pengintai AS di Provinsi Isfahan, Trump menegaskan bahwa operasi tersebut tuntas tanpa ada satu pun personel Amerika yang tewas atau terluka.
Tradisi Bertahan Hidup Ksatria Udara
Kemenangan moral ini membuktikan kualitas pelatihan keras para pilot tempur AS. “Prioritas nomor satu mereka adalah tetap hidup dan menghindari penangkapan,” ujar Jennifer Kavanagh, analis militer dari Defense Priorities.
Meski mengalami luka saat proses pelontaran diri dari pesawat, sang Kolonel berhasil menjauh dari lokasi jatuhnya puing dan menyembunyikan diri di medan yang sangat sulit ditemukan sebelum akhirnya dijemput oleh helikopter penyelamat yang terbang rendah melintasi wilayah musuh.