JAKARTA – Anggapan bahwa tidur delapan jam per malam adalah patokan ideal ternyata tidak sepenuhnya benar. Menurut sejumlah penelitian, kebutuhan tidur setiap orang berbeda-beda dan tidak hanya ditentukan oleh durasi, melainkan juga kualitas tidur.
Psikolog klinis sekaligus pakar tidur dan kognisi, dr. Tony Cunningham, menegaskan bahwa tidur dipengaruhi oleh dua faktor utama: tekanan tidur dan ritme sirkadian. “Tidur dipengaruhi oleh dua hal berbeda, yaitu tekanan tidur dan ritme sirkadian,” ujarnya, dikutip dari CNN Health.
Tekanan tidur meningkat seiring lamanya seseorang terjaga dan berkurang saat tidur. “Tekanan tidur itu seperti rasa lapar. Makin lama kita tidak tidur, dorongannya akan makin kuat,” jelas Cunningham. Sementara ritme sirkadian adalah jam biologis alami tubuh yang mengatur siklus tidur-bangun dalam 24 jam.
Jika kedua faktor ini tidak selaras, misalnya akibat jadwal tidur yang tidak teratur, kualitas tidur bisa menurun meski durasinya cukup. Karena itu, Cunningham menyarankan agar seseorang membiasakan bangun di jam yang sama setiap hari. “Bangun di waktu yang konsisten bisa lebih membantu tubuh membangun pola tidur yang sehat dibandingkan memaksa tidur saat belum mengantuk,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa rekomendasi tidur tujuh hingga sembilan jam hanyalah rata-rata. “Tidak semua orang membutuhkan delapan jam tidur. Ada yang optimal dengan lima atau enam jam, tapi ada juga yang butuh sembilan jam atau lebih,” ujarnya.
Untuk mengetahui kebutuhan tidur pribadi, Cunningham menyarankan mencoba tidur tanpa alarm saat libur. Setelah beberapa hari, tubuh biasanya akan menemukan pola alami dan konsisten. “Jika seseorang bangun di jam yang hampir sama selama beberapa hari berturut-turut tanpa alarm, itu pertanda tubuh sudah menemukan kebutuhan tidurnya,” jelasnya.
Dengan memahami cara kerja tubuh, tidur tidak perlu lagi dipaksakan mengikuti angka tertentu. Yang terpenting, tubuh terasa segar saat bangun dan mampu menjalani aktivitas sehari-hari dengan optimal.