Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melanjutkan “safari ekonomi” di Amerika Serikat dengan misi besar: membuktikan bahwa Indonesia mampu tumbuh cepat tanpa harus mengorbankan disiplin anggaran.
Di Washington DC, Menkeu menggelar pertemuan maraton dengan tokoh-tokoh paling berpengaruh di dunia finansial, mulai dari Managing Director IMF Kristalina Georgieva, petinggi Bank Dunia, hingga lembaga pemeringkat global seperti S&P.
Bantalan Rp420 Triliun: Sinyal Anti-Krisis
Dalam pertemuan dengan IMF, Menkeu Purbaya memberikan pernyataan berani terkait ketidakpastian global akibat konflik energi dan geopolitik. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak memerlukan bantuan IMF karena memiliki pertahanan fiskal yang sangat solid.
“Kondisi fiskal kita kuat dengan bantalan anggaran sekitar Rp420 triliun. Indonesia mampu menyerap kejutan ekonomi (shock), termasuk lonjakan harga minyak global,” ujar Purbaya dengan percaya diri, Selasa (14/4/2026).
Meyakinkan “Hiu” Wall Street
Purbaya juga bertatap muka dengan 18 investor kelas berat, termasuk Goldman Sachs dan Fidelity Investments. Para manajer investasi ini menggali lebih dalam mengenai kredibilitas strategi ekonomi di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Hasilnya? Antusiasme luar biasa. Investor global kini mulai melirik instrumen sektor keuangan Indonesia, baik di pasar utang (fixed income) maupun saham (equity). “Keraguan terhadap kemampuan Indonesia menjaga disiplin fiskal sambil mendorong pertumbuhan kini semakin terkikis. Mereka sangat puas dengan strategi yang kami paparkan,” tambahnya.
Tak hanya investor, Bank Dunia dan S&P Global Ratings juga memberikan rapor hijau bagi strategi fiskal Indonesia. Bank Dunia bahkan menyatakan minatnya untuk memperdalam kerja sama dalam proyek-proyek strategis jangka panjang dan pengentasan kemiskinan.
Indonesia dipandang telah melakukan penyesuaian kebijakan yang tepat sejak akhir tahun lalu, sehingga memiliki daya tahan ekstra dalam menghadapi tekanan eksternal yang melumpuhkan banyak negara lain.