JAKARTA – PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan ketersediaan pupuk bersubsidi terjaga guna mendukung produktivitas pertanian nasional di tengah potensi fenomena El Nino yang diperkirakan akan memperkuat musim kemarau tahun ini. Hingga 8 Juni 2026, stok pupuk yang tersedia sebesar 1,17 juta ton, terdiri dari stok pupuk subsidi sebesar 836.672 ton dan stok non-subsidi sebesar 338.072 ton.
“Pupuk Indonesia siap mendukung ketahanan pangan nasional dalam menghadapi potensi El Nino dengan memastikan ketersediaan pupuk bagi petani di seluruh Indonesia,” ujar Vice President (VP) Manajemen Stakeholder Pupuk Indonesia, Susatyo Jati, saat menjadi narasumber dalam webinar bertajuk “Menjaga Produksi Pangan Saat El Nino Datang”, Rabu (10/6/2026).
Ia menjelaskan, per tanggal 8 Juni 2026 Pupuk Indonesia menyiapkan stok pupuk subsidi jenis urea sebanyak 507.853 ton. Kemudian stok NPK 256.781 ton, NPK Kakao 11.200 ton, SP-36 sebanyak 17.912 ton, ZA 3.303 ton, serta pupuk organik 39.623 ton. Ketersediaan stok tersebut didukung oleh operasional pabrik yang terus berjalan dan dijaga keandalannya agar mampu memenuhi alokasi pupuk yang telah ditetapkan pemerintah.
“Produksi kami terus berjalan sehingga stok akan terus berputar. Kami senantiasa menjaga keandalan pabrik-pabrik kami untuk mendukung pemenuhan alokasi pupuk nasional. Melalui pengelolaan dan pemeliharaan pabrik yang optimal, kami terus berupaya memastikan pasokan pupuk nasional dapat terpenuhi dengan baik, baik untuk produk pupuk subsidi maupun non subsidi yang dibutuhkan oleh petani” jelasnya.
Pada tahun 2026, alokasi pupuk bersubsidi nasional untuk sektor pertanian mencapai 9,55 juta ton, yang terdiri dari 4,5 juta ton Urea, 4,5 juta ton NPK, serta 0,55 juta ton pupuk lainnya, termasuk pupuk organik dan ZA.
Jati menambahkan, kemudahan penebusan pupuk yang diberikan pemerintah turut mendorong peningkatan realisasi penyaluran pupuk bersubsidi dari tahun ke tahun. Hingga 31 Mei 2026, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi telah mencapai sekitar 4 juta ton atau 41,1 persen dari total alokasi tahun ini 2026.
“Penyaluran pupuk bersubsidi terus menunjukkan tren positif. Hal ini menunjukkan bahwa berbagai langkah perbaikan yang dilakukan oleh pemerintah semakin memudahkan petani dalam memperoleh pupuk sesuai kebutuhannya,” kata Jati.
Pada kesempatan yang sama, Pakar Klimatologi BMKG, Indra Gustari, mengingatkan bahwa potensi El Nino dapat memperparah kondisi musim kemarau tahun ini karena menyebabkan curah hujan menjadi semakin rendah. Kondisi tersebut berpotensi berdampak pada berbagai sektor yang sangat bergantung pada ketersediaan air, termasuk sektor pertanian.
Menurut Indra, periode Juli hingga September akan menjadi fase dengan curah hujan rendah di sebagian besar wilayah Indonesia, terutama di wilayah selatan ekuator. Bahkan kondisi tersebut diperkirakan masih berlanjut hingga Oktober.
“Pada Oktober curah hujan masih relatif rendah, meskipun di beberapa wilayah, khususnya di utara ekuator, mulai terlihat peningkatan hujan. Memasuki November, curah hujan diperkirakan akan semakin menguat,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa curah hujan selama periode Juli hingga Oktober diprediksi berada di bawah kondisi normal atau lebih rendah dibandingkan rata-rata klimatologis dalam 30 tahun terakhir. “Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus, dan sebagian wilayah pada September. Periode ini menjadi fase paling kering pada musim kemarau tahun ini. Dengan informasi tersebut, berbagai langkah mitigasi dapat dipersiapkan lebih dini,” tutup Indra.