Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, memberikan peringatan keras kepada seluruh pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ia melarang keras pengoperasian dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) memanfaatkan bahan pokok maupun bahan bakar bersubsidi yang dialokasikan untuk masyarakat kurang mampu, seperti Minyakita, gas elpiji 3 kg, dan beras SPHP.
“Tidak boleh ya! Tidak boleh masak untuk MBG memakai Minyakita, gas melon 3 kilo, dan beras SPHP. Tidak boleh!” tegas Sudaryono dalam jumpa pers di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Senin (27/7/2026).
Buka Pintu Laporan Publik: Sanksi Tegas Menanti
Untuk menjaga integritas program, Sudaryono mengajak masyarakat hingga insan pers untuk aktif mengawasi operasional dapur-dapur SPPG di lapangan. Jika ditemukan ada indikasi kecurangan atau penggunaan barang subsidi, BGN dipastikan tidak akan tinggal diam.
Dapur yang terbukti melanggar akan menerima Surat Peringatan (SP). Pengelola yang membangkang (ngeyel) akan dijatuhi sanksi pembekuan hingga penutupan permanen operasional dapur.
Peran MBG Sebagai Penyeimbang Harga Petani dan Peternak
Selain menertibkan bahan baku, BGN menekankan bahwa program MBG memiliki misi besar sebagai penyeimbang pasokan dan penstabil harga pangan di tingkat akar rumput.
Sudaryono menginstruksikan agar dapur MBG tidak memanfaatkan anjloknya harga pasar untuk menekan para produsen lokal.
-
Contoh Kasus: Ketika harga telur di tingkat peternak anjlok hingga Rp12.000–Rp15.000/kg, pengelola dapur MBG wajib tetap membeli sesuai Harga Acuan Pemerintah (HAP) yaitu sebesar Rp25.000/kg.
Tujuannya adalah memastikan para petani dan peternak lokal tidak merugi akibat gejolak pasar, sekaligus menjaga ketersediaan pasokan.
“Tujuan MBG ini juga sebagai stabilisator harga di level paling bawah supaya memastikan peternak dan petani tidak dirugikan,” jelasnya.
Utamakan Gizi Anak: “Bukan Makan Enak Gratis”
Menutup arahannya, Sudaryono kembali mengingatkan filosofi dasar dari program pemerintah ini. Fokus utama penyediaan makanan adalah pemenuhan gizi seimbang bagi anak-anak, bukan sekadar porsi yang melimpah atau rasa yang memanjakan lidah.
Karena menyangkut tumbuh kembang dan kesehatan generasi muda, BGN tidak memberikan toleransi (zero tolerance) terhadap kelalaian standar kualitas.
“Sekali lagi ini namanya makan bergizi gratis, bukan makan enak gratis, bukan makan banyak gratis. Mencukupan gizinya lah yang menjadi tolok ukurnya,” katanya.
“Ini menyangkut nyawa seseorang, menyangkut kesehatan seseorang. Maka bagi yang tidak memenuhi suatu standar, ya mohon maaf, harus kemudian kita suspend,” pungkasnya.