JAKARTA โ Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) menegaskan bahwa model kelembagaan yang diterapkan memiliki fondasi tata kelola yang berbeda secara mendasar dibandingkan skema investasi yang pernah dijalankan 1Malaysia Development Berhad (1MDB).
Penegasan tersebut disampaikan Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, yang menjelaskan bahwa sejak tahap perancangan, Danantara telah membangun sistem pemisahan risiko antara pengelolaan aset Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan aktivitas investasi.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan potensi risiko investasi tidak berdampak langsung terhadap keberlangsungan maupun kinerja perusahaan-perusahaan milik negara yang menjadi penopang utama perekonomian Indonesia.
Menurut Dony, munculnya perbandingan antara Danantara dan 1MDB tidak terlepas dari adanya konsolidasi aset BUMN yang berada dalam satu ekosistem dengan fungsi investasi.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa struktur Danantara dibangun dengan prinsip pemisahan fungsi yang jelas sehingga risiko investasi dapat dikelola secara terukur.
โDari awal mendesain Danantara, (kita) itu sudah berpikir harus terjadi pemilahan risiko antara pengelolaan BUMN dengan investasi. Karena yang namanya investasi itu bisa gagal, bisa menghasilkan,โ kata Dony dalam podcast Bukan Kaleng Kaleng, dikutip Kamis, 11 Juni 2026.
Risiko Investasi Tidak Menyeret BUMN
Dony menjelaskan bahwa investasi pada dasarnya memiliki dua kemungkinan, yakni memberikan keuntungan atau mengalami kegagalan.
Karena itu, Danantara sejak awal dirancang agar risiko dari aktivitas investasi tidak mengganggu kesehatan keuangan maupun operasional perusahaan-perusahaan pelat merah.
Ia menilai tanpa adanya pemisahan tersebut, kerugian investasi berpotensi memberikan dampak berantai terhadap BUMN yang selama ini berkontribusi besar terhadap penerimaan negara dan pertumbuhan ekonomi.
โAnda bisa bayangkan kalau kemudian kita berinvestasi dan investasinya gagal, bisa menyeret BUMN-nya. Karena itu dari awal kita sudah mendesain itu, kita pecah,โ ujar Dony.
Konsep pemisahan inilah yang disebut menjadi salah satu pilar utama tata kelola Danantara dalam menjaga keberlanjutan investasi jangka panjang.
Dua Pilar Utama Danantara
Dalam operasionalnya, Danantara dibangun melalui dua unit utama yang memiliki fungsi berbeda namun saling melengkapi.
Pilar pertama adalah Danantara Asset Management yang bertugas melakukan konsolidasi serta pengelolaan portofolio perusahaan-perusahaan BUMN.
Sementara pilar kedua adalah Danantara Investment Management yang berfungsi sebagai lengan investasi untuk menyalurkan dana ke berbagai proyek produktif yang dinilai mampu memberikan nilai tambah ekonomi.
โDanantara Asset Management sebagai konsolidator BUMN-BUMN, dan Danantara Investment Management sebagai investment arm-nya,โ lanjutnya.
Melalui pembagian peran tersebut, Danantara berupaya menciptakan sistem investasi yang lebih aman sekaligus menjaga stabilitas aset negara yang berada di bawah pengelolaannya.
Dividen BUMN Jadi Sumber Utama Investasi
Dony juga meluruskan anggapan bahwa investasi Danantara menggunakan aset inti BUMN sebagai modal utama.
Ia menegaskan dana yang digunakan untuk ekspansi investasi berasal dari dividen yang dihasilkan perusahaan-perusahaan negara setelah melalui proses pengelolaan oleh Danantara Asset Management.
Dengan kata lain, aset pokok BUMN tetap berada dalam pengelolaan dan perlindungan yang terpisah dari aktivitas investasi.
โYang diinvestasikan adalah dividen. Jadi, dividen yang dihasilkan oleh Danantara Asset Management diinvestasikan untuk hal yang produktif, untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi kita,โ ujar Dony.
Model tersebut diharapkan mampu menciptakan efek berganda bagi perekonomian nasional melalui pemanfaatan keuntungan perusahaan negara untuk mendanai proyek-proyek strategis dan produktif.
Kinerja BUMN Menentukan Masa Depan Danantara
Lebih lanjut, Dony menegaskan bahwa keberhasilan Danantara sangat bergantung pada kualitas pengelolaan BUMN yang berada dalam ekosistemnya.
Semakin tinggi kinerja perusahaan-perusahaan negara, semakin besar pula dividen yang dapat dihimpun untuk mendukung investasi dan memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.
Sebaliknya, kesalahan dalam pengelolaan BUMN akan berdampak langsung terhadap kemampuan Danantara dalam menjalankan mandat investasinya.
โArtinya apa? Pengelolaan BUMN ini menjadi kata kunci utama untuk keberlanjutan Danantara. Kalau kita keliru mengelola BUMN-nya, Danantara-nya pasti gone. Karena kunci yang diinvestasikan adalah hasil pengelolaan BUMN-nya,โ kata dia.
Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa strategi Danantara tidak hanya berfokus pada investasi, tetapi juga pada upaya meningkatkan kualitas tata kelola dan profitabilitas BUMN sebagai sumber utama pendanaan investasi nasional.***