JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Jumat (24/7/2026) dengan pelemahan tajam di tengah tekanan sentimen eksternal yang membebani pasar.
IHSG ditutup di level 6.182,99 setelah kehilangan 132,32 poin atau sekitar 2,1 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.
Sejak awal perdagangan, indeks sudah bergerak di zona negatif dengan pembukaan pada level 6.266,97 sebelum terus melemah hingga penutupan.
Sepanjang sesi perdagangan, IHSG sempat menyentuh level terendah harian di posisi 6.159,14 akibat meningkatnya aksi jual investor.
Tekanan pasar terlihat merata dengan 586 saham ditutup melemah, sementara hanya 93 saham menguat dan 117 saham tidak mengalami perubahan.
Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia tetap tinggi dengan nilai perdagangan mencapai Rp16,79 triliun.
Volume transaksi tercatat sekitar 36,69 miliar lembar saham dengan frekuensi perdagangan melampaui 2,2 juta kali transaksi.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pelemahan IHSG sejalan dengan mayoritas bursa saham Asia yang juga berada dalam tekanan.
Pelaku pasar disebut lebih memilih bersikap hati-hati karena meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Faktor utama yang membebani pasar berasal dari memanasnya konflik geopolitik dan kebijakan tarif dagang terbaru yang diterapkan Amerika Serikat.
“Perang yang semakin memanas dan kebijakan tarif dagang baru Amerika Serikat meningkatkan ketidakpastian ekonomi global.”
“Kondisi tersebut diproyeksikan menekan pertumbuhan ekonomi sekaligus memicu inflasi apabila harga energi tetap tinggi,” kata tim analis, Jumat, 24 Juli 2026.
Pilarmas menjelaskan lonjakan harga minyak mentah Brent hingga menembus US$100 per barel menjadi salah satu pemicu utama kekhawatiran investor.
Kenaikan harga minyak dipengaruhi meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah serangan kelompok Houthi terhadap kapal tanker milik Arab Saudi.
Eskalasi konflik dinilai semakin meningkat setelah muncul ancaman dari Presiden Amerika Serikat terhadap Iran.
Situasi tersebut memperbesar risiko inflasi global sehingga ekspektasi penurunan suku bunga diperkirakan semakin tertunda.
Di sisi lain, penerapan tarif impor baru Amerika Serikat terhadap sekitar 60 mitra dagang juga memicu kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dunia.
Kebijakan perdagangan tersebut diperkirakan mengganggu rantai pasok internasional dan meningkatkan tekanan terhadap aktivitas ekonomi global.
Dari sisi domestik, lonjakan harga minyak dunia dinilai berpotensi memperbesar beban subsidi energi pemerintah.
Tekanan tersebut juga diperkirakan mempersempit ruang fiskal dan meningkatkan tantangan dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Pilarmas memperkirakan risiko inflasi domestik dapat meningkat apabila harga energi bertahan pada level tinggi dalam waktu lama.
Kondisi itu juga berpotensi memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah, neraca perdagangan, suku bunga, serta daya beli masyarakat.
Sentimen global diperkirakan masih menjadi faktor dominan yang menentukan arah pergerakan IHSG dalam beberapa waktu ke depan.
Data RTI Infokom menunjukkan 104 saham menguat, 587 saham melemah, dan 105 saham bergerak stagnan.
Saham BMRI menjadi emiten paling aktif berdasarkan nilai transaksi sebesar Rp1,7 triliun meski ditutup turun 5,71 persen ke Rp4.130.
Posisi berikutnya ditempati saham TPIA dengan nilai transaksi Rp1,2 triliun setelah terkoreksi 3,23 persen ke Rp2.100.
Saham BUMI turun 6,56 persen, BBRI melemah 1 persen, sedangkan DSSA terkoreksi 0,57 persen pada akhir perdagangan.***