JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka perdagangan awal pekan ini dengan bergerak di zona hijau.
Pada perdagangan hari ini, Senin (20/4/2026), IHSG dibuka pada level 7.663,39 dan hingga pukul 10.40 WIB, IHSG berada di level 7.652,22, naik 18,22 poin (0,24 persen).
Lalu indeks saham-saham LQ45 di level 760,85, naik 1,98 poin (0,26 persen).
Performa positif perdagangan saham di awal pekan ini mencerminkan optimisme pasar yang masih terjaga di tengah tekanan global.
Kenaikan IHSG hari ini melanjutkan tren positif dari penutupan akhir pekan lalu yang berada di zona hijau di level 7.634 atau naik tipis 0,17 persen.
Meski sempat menguat di awal sesi hingga menyentuh posisi tertinggi 7.671,98, laju IHSG tidak bertahan lama dan mulai mengalami tekanan akibat perubahan sentimen global yang sangat dinamis.
Pergerakan cepat pasar disebut tidak lepas dari pengaruh kondisi geopolitik internasional yang terus berubah dalam waktu singkat.
Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan pasar saat ini bergerak sangat cepat.
“Ia menyebut perubahan sentimen dipicu faktor geopolitik global.”
“Sempat dibukanya Selat Hormuz mendorong penurunan harga minyak hingga sekitar 11% dan mengangkat indeks global. Namun penutupan kembali jalur tersebut oleh Iran langsung membalikkan sentimen,” ujarnya Senin, 20 April 2026.
Situasi ini menunjukkan bahwa jalur distribusi energi dunia masih menjadi faktor krusial yang mampu menggerakkan arah pasar secara signifikan.
Dalam analisisnya, kondisi tersebut menciptakan dua potensi arah pergerakan IHSG yang saling berlawanan dalam jangka pendek.
“Di satu sisi, penurunan harga minyak sebelumnya memberikan ruang napas bagi sektor yang sensitif terhadap biaya energi. Seperti perbankan, konsumsi, dan transportas,” katanya.
“Di sisi lain, jika penutupan Selat Hormuz berlanjut dan memicu kenaikan harga minyak kembali. Maka tekanan inflasi berpotensi meningkat,” ucapnya menambahkan.
Untuk perdagangan hari ini, IHSG diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat yang terbatas dalam rentang 7.550 hingga 7.740.
Dalam situasi pasar yang tidak menentu, pelaku pasar disarankan untuk lebih selektif dalam menentukan strategi investasi.
Saham berbasis energi dinilai memiliki prospek menarik karena berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga komoditas global.
PGAS menjadi salah satu saham yang menarik dicermati dengan target 2.020.
ADRO juga dinilai prospektif dengan target 2.720.
Sementara itu, peluang jangka pendek juga masih terbuka pada saham non-komoditas dengan pendekatan trading cepat.
SCMA direkomendasikan dengan target 340 seiring potensi pemulihan belanja iklan.
GZCO menjadi pilihan spekulatif di sektor energi dengan target di kisaran 238.
Secara keseluruhan, arah pergerakan IHSG dalam waktu dekat sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global serta fluktuasi harga minyak dunia.
“Selama ketidakpastian di Selat Hormuz masih tinggi, pasar cenderung bergerak fluktuatif dengan bias defensif,” kata Hendra.
Menurutnya, peluang tetap tersedia bagi investor yang mampu membaca momentum dengan tepat di tengah volatilitas pasar.
“Peluang tetap terbuka, khususnya pada saham-saham energi dan trading opportunity jangka pendek bagi investor yang jeli membaca momentum,” ujarnya.***