JAKARTA — Di balik semangat Hari Kartini yang terus menyala, ada sejumlah perempuan Indonesia masa kini yang membuktikan bahwa perjuangan R.A. Kartini belum usai dan mereka layak menjadi Kartini masa kini. Mereka hadir dalam berbagai bidang, dari panggung diplomasi hingga ruang kelas di pelosok negeri, dengan satu benang merah yang sama, yaitu tekad untuk memberi makna lebih pada peran perempuan.
Berikut empat tokoh perempuan yang memiliki prestasi serta keberanian yang dapat menginspirasi kaum perempuan di Indonesia.
1. Retno Marsudi — Diplomat Perempuan Pertama di Kursi Menteri Luar Negeri

Kartini masa kini kelahiran Semarang, Jawa Tengah ini mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai Menteri Luar Negeri perempuan pertama Republik Indonesia, yakni pada periode kabinet 2014–2019. Kepercayaan pemerintah terhadap kinerjanya terbukti dengan penunjukan kembali dirinya untuk masa bakti 2019–2024.
Salah satu momen paling menonjol dalam rekam jejak diplomatiknya adalah ketika konflik Israel-Palestina memanas pada 2023. Retno tampil sigap memastikan keselamatan warga negara Indonesia yang terjebak di tengah situasi perang. Namun perannya tak berhenti di sana. Ia juga dikenal sebagai pejuang keras hak-hak perempuan, yang dibuktikan dengan penghargaan bergengsi dari UN Women dan Partnership Global Forum (PGF) di bidang Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan pada 2017, ditambah berbagai penghargaan lain di beragam bidang.
2. Najwa Shihab — Jurnalis yang Berani Bicara

Meski tumbuh dari keluarga terpandang sebagai putri kedua ulama Quraish Shihab, nama Najwa Shihab dibangun dari kerja keras dan keberanian. Ia memulai perjalanannya dari posisi paling bawah sebagai wartawan magang, sebelum akhirnya dikenal luas sebagai jurnalis yang lugas, kritis, dan menjunjung objektivitas.
Program Mata Najwa yang dibawakannya menjadi salah satu tayangan favorit masyarakat Indonesia. Pada 2023, majalah Tatler pun memasukkan namanya dalam daftar Asia’s Most Influential, sebuah pengakuan atas pengaruhnya yang melampaui batas layar kaca.
Di luar dunia jurnalistik, perempuan berusia 48 tahun ini secara konsisten menyuarakan bahwa perempuan tidak seharusnya dipaksa memilih antara peran sebagai ibu rumah tangga atau perempuan karier. Keberanian Najwa berbicara soal isu-isu politik yang kerap dianggap sensitif menjadikannya panutan bagi banyak perempuan muda Indonesia.
3. Maudy Ayunda — Ketika Dunia Hiburan Bertemu Dunia Akademik

Maudy Ayunda membuktikan bahwa kecemerlangan di panggung hiburan tidak harus mengorbankan prestasi akademik. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah di British School Jakarta, ia menembus Universitas Oxford, Inggris, untuk menekuni jurusan Philosophy, Politics, and Economics (PPE), dan lulus dengan predikat cum laude pada 2016.
Perjalanannya tidak berhenti di situ. Pada 2019, ia diterima di dua universitas elite Amerika Serikat sekaligus, Harvard University dan Stanford University. Maudy akhirnya memilih Stanford, tempat ia menempuh dua program pascasarjana secara bersamaan, yakni Master of Business Administration (MBA) dan Master of Education.
Di jalur seni, kiprahnya pun tak kalah gemilang. Ia telah merilis sejumlah album, di antaranya Come On Girl (2011), Moments (2015), dan Oxygen (2018), serta membintangi berbagai peran penting di layar lebar. Maudy menjadi simbol nyata bahwa perempuan Indonesia mampu berprestasi di lebih dari satu bidang sekaligus.
4. Zentri Hartanti — Guru Honorer yang Melawan Arus dari Pelosok Bogor

Tidak semua pahlawan berdiri di panggung besar. Zentri Hartanti adalah buktinya. Guru honorer ini meraih Education Dedication Award dalam ajang RA Kartini Awards 2025, sebuah penghargaan yang mencerminkan dedikasinya mengajar anak-anak di pelosok Kabupaten Bogor, wilayah yang selama ini nyaris luput dari perhatian serius dalam bidang pendidikan formal.
Tantangan yang dihadapi Kartini masa kini ini bukan sekadar soal keterbatasan fasilitas atau jarak tempuh yang jauh. Ia juga berhadapan dengan budaya yang telah mengakar kuat di daerah tersebut, di mana anak perempuan kerap dinikahkan di usia yang sangat muda. Beberapa di antara murid-muridnya bahkan telah berstatus istri sebelum menginjak usia 13 tahun. Pendidikan kerap dianggap tidak lebih penting dari pekerjaan rumah tangga atau tradisi turun-temurun.
Di tengah kondisi itulah Zentri memilih untuk tetap datang, mengajar, dan meyakini bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari lingkaran kemiskinan dan ketimpangan yang membelenggu generasi muda, khususnya anak perempuan. Keyakinan itulah yang menjadikannya salah satu Kartini masa kini yang paling nyata wujudnya.
Keempat perempuan ini hadir dari latar belakang yang berbeda-beda, namun semuanya berbicara dalam satu bahasa yang sama, yaitu keberanian untuk melangkah lebih jauh dari batas yang selama ini dianggap wajar bagi perempuan. Dari ruang sidang PBB hingga ruang kelas berdinding papan, semangat Kartini terus hidup dan menemukan wujudnya yang baru. Mereka bukan sekadar inspirasi, melainkan bukti nyata bahwa perubahan bisa dimulai dari mana saja, oleh siapa saja, asalkan ada tekad yang tidak pernah padam. (ACH)