Lima pasangan pengantin di Bojongsari, Depok, mungkin tak pernah membayangkan hari bahagia mereka akan dihadiri oleh orang nomor satu di Jawa Barat. Gubernur Dedi Mulyadi (KDM) hadir langsung duduk di depan meja akad bersama Wali Kota Depok, Supian Suri, untuk menjadi saksi pengikat janji suci mereka.
Bukan sekadar hadir, pria yang akrab disapa KDM ini membawa “buah tangan” yang membuat para mempelai tersenyum lebar. Lewat kerja sama dengan Bank BJB, setiap pasangan mendapatkan kado berupa tabungan senilai Rp5 juta yang khusus dialokasikan untuk uang muka (Down Payment) rumah.
“Ini ada pengumuman, barusan Dirut BJB WhatsApp, satu keluarga dikasih tabungan Rp5 juta untuk DP rumah. Jangan diambil ya, karena kalau bisa diambil pasti besok langsung habis!” kelakar Dedi yang disambut tawa hadirin.
Lawan Pinjol Lewat Tradisi Nikah Sederhana
Kehadiran Dedi di KUA bukan tanpa misi. Ia ingin mematahkan stigma bahwa pernikahan harus selalu mewah dan berujung pada tumpukan utang. Menurutnya, biaya resepsi yang berlebihan sering kali menjadi pintu masuk warga ke jeratan pinjaman online (pinjol), bank keliling, hingga “bank emok”.
“Nikah di KUA itu gratis dan tidak memberatkan. Dengan begini, rakyat Jawa Barat perlahan bisa turun ketergantungannya pada pinjol. Jangan sampai setelah pesta selesai, yang tersisa malah cicilan utang,” tegasnya.
Selain dana DP rumah, para pengantin baru ini juga dipersenjatai dengan peralatan rumah tangga seperti mesin cuci dan kulkas. Bahkan bagi pasangan yang sudah memiliki rumah namun kondisinya memprihatinkan, Dedi langsung memberikan instruksi khusus kepada Wali Kota Supian Suri.
Dedi meminta agar pasangan tersebut dibantu melalui program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) atau anggaran Kementerian PKP senilai Rp20 juta. “Jangan lupa juga, cukup anak dua ya, KB-nya dijaga,” tambahnya sambil bercanda.
Kejutan bagi Sang Pengantin
Deru dan Anggita, salah satu pasangan yang beruntung, mengaku sangat terkejut sekaligus bangga. Awalnya, mereka memilih menikah di KUA murni untuk menekan biaya dan menghindari beban finansial di awal masa rumah tangga.
“Iya kaget banget, pas mau akad tiba-tiba ada Pak Gubernur jadi saksi. Kami pilih di KUA supaya ringan biayanya, eh malah dapat hadiah luar biasa,” tutur Deru dengan wajah sumringah.
Momen di KUA Bojongsari ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sebuah pernikahan tidak ditentukan oleh kemewahan pesta, melainkan kemandirian ekonomi dan kesiapan membangun masa depan yang terencana.