Prahara geopolitik di kawasan Timur Tengah masih menyisakan lubang besar dalam kalender Formula 1 musim 2026. Setelah Grand Prix Bahrain dan Arab Saudi dibatalkan pada Maret lalu akibat konflik antara AS, Israel, dan Iran, kini upaya Jeddah untuk “masuk lewat pintu belakang” di penghujung musim resmi ditolak oleh sepuluh tim kontestan.
Padahal, Arab Saudi dan sponsor utama F1, Aramco, telah mengerahkan segala kekuatan finansial mereka agar sirkuit Jeddah—yang dianggap sebagai permata olahraga otomotif Kerajaan—bisa kembali digelar sebelum musim berakhir di bulan Desember.
Skenario Melelahkan yang Ditolak
Mantan pembalap F1, Robert Doornbos, mengungkapkan bahwa penyelenggara di Jeddah sempat mengusulkan skenario penutupan musim yang sangat ekstrem. Rencananya, balapan penutup di Abu Dhabi akan diundur satu minggu demi menyisipkan GP Jeddah di antara seri Qatar dan Abu Dhabi.
Jika disetujui, ini akan menciptakan rangkaian empat balapan beruntun (quadruple header) yang brutal: Las Vegas, Qatar, Jeddah, dan Abu Dhabi. Namun, tim-tim F1 dengan tegas memberikan sinyal merah. Selain faktor kelelahan fisik kru dan pembalap, risiko keamanan di kawasan Teluk masih dianggap terlalu tinggi untuk dipertaruhkan.
Kargo Terjebak di Selat Hormuz
Masalah logistik juga menjadi sandungan serius. Laporan dari City AM menyebutkan bahwa sebagian kargo milik tim-tim F1 hingga kini masih tertahan di Bahrain akibat blokade Iran di Selat Hormuz. Memaksakan balapan di Jeddah di tengah ketidakpastian jalur pengiriman barang hanya akan menjadi mimpi buruk logistik bagi olahraga ini.
“Mereka mempromosikan acara di Jeddah secara besar-besaran karena itulah harga diri mereka,” ujar Doornbos. Namun bagi tim-tim F1, keselamatan dan kesehatan mental staf jauh lebih berharga daripada tuntutan komersial semata.
Dengan resminya penolakan ini, jeda lima minggu yang tercipta setelah GP Jepang (29 Maret) tetap bertahan. Seluruh perhatian kini teralihkan ke Amerika Serikat, di mana Grand Prix Miami dijadwalkan menjadi balapan pembuka kembalinya aksi F1 pada 1-3 Mei mendatang.
F1 dan FIA menyatakan akan terus memantau situasi di Timur Tengah, sembari berharap dua balapan sisa di Qatar dan Abu Dhabi tetap bisa berjalan sesuai jadwal awal tanpa perlu tambahan beban dari Jeddah.