JAKARTA – Badan Penerbangan dan Antarksa Amerika Serikat (NASA) menarik perhatian publik dunia dengan meluncurkan fitur interaktif terbaru bernama ‘Your Name in Landsat’.
Fitur ini memungkinkan pengguna melihat namanya tersusun dari citra permukaan Bumi hasil tangkapan satelit.
Hingga berita ini diturunkan fitur ini masih menjadi trending di berbagai platform media social termasuk di Google Trend.
Fitur ini hadir sebagai bagian dari peringatan Hari Bumi yang diperingati setiap 22 April dan menjadi momentum global untuk meningkatkan kesadaran terhadap pelestarian lingkungan.
Melalui inovasi ini, NASA mengajak masyarakat memahami bahwa data satelit bukan hanya arsip ilmiah, tetapi juga sarana edukasi visual yang mudah diakses oleh publik.
Sistem ini bekerja dengan memanfaatkan kumpulan citra satelit dari berbagai platform seperti NASA Earth Observatory, NASA Worldview, USGS EarthExplorer, hingga ESA Sentinel Hub untuk membentuk huruf-huruf dalam nama pengguna.
“Ini adalah cara menyenangkan untuk menunjukkan keragaman lanskap planet kita,” kata TechRadar menulis ulasannya.
Dalam uji coba redaksi, nama ‘Indonesia’ ditampilkan melalui rangkaian pemandangan dunia seperti Danau Canandaigua New York, kota kecil São Miguel do Araguaia di Brasil, Pulau Akimiski Kanada, Manicouagan Reservoir (danau cincin) Kanada, kota kecil Yapacani di Bolivia.
Lalu Breiðamerkurjökull Glacier (gletser) Islandia, pegunungan Djebel Ouarkziz Moroko dan Danau Guakhmaz Azerbaijan.
Untuk mencoba fitur ini, pengguna cukup membuka laman resmi NASA “Your Name in Landsat”.
Lalu emasukkan nama pada kolom yang tersedia, menekan enter untuk melihat hasil visual, lalu mengunduh atau membagikan hasilnya, serta dapat mengulang proses untuk mendapatkan kombinasi citra berbeda.
Di balik tampilan visual yang menarik, teknologi ini bersumber dari program Landsat yang telah beroperasi sejak 1972 dan dikenal sebagai salah satu sistem pemantauan permukaan Bumi paling penting di dunia.
NASA juga mencatat bahwa data Landsat memiliki kontribusi ekonomi signifikan hingga mencapai 25,6 miliar dolar AS pada 2023 di Amerika Serikat, serta menjadi fondasi penting dalam pemantauan hutan dan perubahan iklim global.
“Ini cara sederhana namun kuat untuk menghubungkan manusia dengan planetnya,” ujar NASA menulis keterangannya.***