JAKARTA – Perekonomian Indonesia menunjukkan daya tahan yang kuat di tengah ketidakpastian global dengan berbagai indikator makro yang tetap bergerak positif pada awal tahun 2026.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional melampaui 5,5% pada Triwulan I 2026 seiring munculnya sinyal penguatan dari sektor riil dan finansial.
Realisasi investasi nasional tercatat mencapai Rp 498,79 triliun atau tumbuh 7,2% secara tahunan yang mencerminkan kepercayaan investor tetap terjaga.
Belanja modal pemerintah pusat juga melonjak signifikan sebesar 36,7% secara tahunan menjadi Rp 35,42 triliun yang turut mendorong aktivitas ekonomi domestik.
Kinerja sektor manufaktur memperlihatkan ekspansi konsisten dengan PMI berada di level 52,6 pada Januari, 53,8 pada Februari, dan 50,1 pada Maret 2026.
Pertumbuhan kredit investasi yang mencapai 20,85% secara tahunan hingga menyentuh Rp 2.726,9 triliun semakin memperkuat sinyal akselerasi ekonomi nasional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan bahwa stabilitas ekonomi Indonesia tetap terjaga meski dunia sedang menghadapi tekanan global.
Kinerja perdagangan luar negeri juga tetap solid dengan nilai ekspor kumulatif Januari hingga Maret 2026 mencapai USD 66,85 miliar atau tumbuh 0,34% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sektor industri pengolahan menjadi motor utama ekspor dengan kenaikan 3,96% hingga mencapai USD 54,98 miliar.
Di sisi lain, impor Indonesia meningkat 10,05% menjadi USD 61,30 miliar yang mencerminkan peningkatan aktivitas produksi dan konsumsi domestik.
Surplus neraca perdagangan tercatat sebesar USD 5,55 miliar sekaligus memperpanjang tren surplus selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
“Hingga bulan Maret 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD 5,55 miliar. Surplus sepanjang periode Januari-Maret 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas USD 10,63 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit USD 5,08 miliar,” kata Ateng dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (4/5).
Mobilitas masyarakat turut menunjukkan peningkatan dengan total 319,51 juta perjalanan wisatawan nusantara sepanjang Triwulan I 2026 atau naik 13,14% secara tahunan.
Lonjakan mobilitas ini menjadi indikator bahwa aktivitas ekonomi dan daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah dinamika global.
Sementara itu, inflasi April 2026 tercatat sebesar 0,13% secara bulanan dan 2,42% secara tahunan yang masih dalam rentang terkendali.
Kenaikan tarif transportasi udara dan harga bahan bakar menjadi faktor utama yang mendorong inflasi pada periode tersebut.
Namun tekanan inflasi berhasil diredam oleh penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami deflasi sebesar 0,20%.
“Beberapa komoditas juga ada yang memberikan andil deflasi diantaranya daging ayam ras dengan andil deflasi 0,11 persen, emas perhiasan dengan andil deflasi 0,09 persen, cabai rawit serta telur ayam ras masing-masing 0,06 persen dan 0,04 persen,” tutup Ateng.***