Pihak SMKN 4 Samarinda akhirnya angkat bicara guna meluruskan narasi yang berkembang liar mengenai kematian salah satu siswanya, Mandala Rizky Saputra. Melalui pernyataan resmi bersama Disdikbud Kaltim, pihak sekolah menegaskan bahwa menyebut “sepatu kekecilan” sebagai penyebab tunggal kematian adalah sebuah kesimpulan yang belum terbukti secara medis.
Berdasarkan hasil kunjungan rumah, pihak sekolah menemukan fakta bahwa meskipun kaki Mandala membengkak di bagian punggung kaki, tidak ditemukan adanya luka terbuka, lecet pada tumit, ataupun cedera pada jari-jari kaki yang biasanya muncul akibat sepatu sempit.
“Tanpa adanya diagnosis medis yang lengkap, sepatu tidak dapat disebut sebagai penyebab kematian. Hingga saat ini, penyebab pastinya belum terbukti secara ilmiah,” tulis pihak sekolah dalam unggahan di akun resmi @smkn4_samarinda.
Kendala Keterbukaan Informasi
Salah satu poin krusial yang diungkap sekolah adalah adanya hambatan komunikasi dari pihak keluarga. Diketahui, sang ibunda sempat meminta Mandala untuk tidak menceritakan kesulitan ekonomi keluarga kepada teman atau pihak sekolah.
Meskipun Mandala sempat mengeluh soal sepatunya kepada sang ibu, informasi tersebut tidak segera sampai ke telinga guru. Sekolah baru mengetahui kondisi sebenarnya pada kunjungan kedua, yakni 23 April 2026, sehari sebelum Mandala berpulang.
Mandala Tak Pernah Disentuh Layanan Medis
Hal yang paling memilukan adalah terungkapnya fakta bahwa Mandala ternyata sama sekali tidak pernah dibawa ke dokter atau fasilitas kesehatan selama masa sakitnya. Penanganan yang dilakukan di rumah hanya sebatas pengobatan luar berdasarkan asumsi keluarga.
“Ibu Mandala hanya mengoleskan Fresh Care pada bagian kaki yang bengkak dan memberikan suplemen penambah darah (Sangobion) karena mengira sang anak hanya kurang darah,” ungkap pihak sekolah. Akibat ketiadaan pemeriksaan klinis ini, penyebab kematian Mandala tetap menjadi misteri secara medis.
Respons Cepat Sekolah
Pihak SMKN 4 Samarinda membantah jika disebut abai. Begitu mendengar kabar kesulitan keluarga, sekolah mengklaim telah melakukan berbagai langkah darurat, mulai dari:
-
Pemberian bantuan uang tunai dan makanan.
-
Penyaluran zakat untuk meringankan beban ekonomi.
-
Membantu proses pengaktifan BPJS agar Mandala bisa berobat.
-
Merencanakan pembelian sepatu baru yang layak.
“Kami membagikan kronologi ini dengan hati terbuka, bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan agar kita semua bisa memetik pelajaran berharga agar kejadian serupa tidak terulang,” pungkas pihak sekolah.