JAKARTA – Ketegangan di dunia tenis profesional memanas setelah Aryna Sabalenka melontarkan ancaman serius terkait kemungkinan boikot turnamen Grand Slam jika tuntutan pemain soal pembagian hadiah tidak dipenuhi.
Petenis asal Belarus itu menegaskan bahwa kontribusi pemain sebagai pusat hiburan dalam turnamen belum dihargai secara adil oleh penyelenggara.
Dalam pernyataannya saat tampil di Italian Open, Sabalenka menyebut langkah boikot bisa menjadi satu-satunya cara untuk memperjuangkan hak para atlet.
“Tanpa kami, tidak akan ada turnamen dan tidak ada hiburan, jadi kami pantas mendapatkan persentase yang lebih besar,” tegas Sabalenka dilansir New York Post, Rabu (6/5/2026).
Pernyataan tersebut muncul di tengah gelombang ketidakpuasan pemain elite terhadap struktur pembagian hadiah di turnamen besar seperti French Open.
Sabalenka bersama Jannik Sinner turut menandatangani pernyataan resmi yang mengungkap kekecewaan mendalam terhadap kebijakan terbaru penyelenggara.
Meski total hadiah Roland Garros 2026 meningkat sekitar 10 persen menjadi €61,7 juta, para pemain menilai angka tersebut tidak mencerminkan peningkatan proporsi pendapatan yang mereka terima.
Data menunjukkan bahwa bagian pemain justru menurun dari 15,5 persen pada 2024 menjadi proyeksi 14,9 persen pada 2026.
Sejumlah bintang lain seperti Coco Gauff, Elena Rybakina, dan Jasmine Paolini juga menyatakan kesiapan untuk mendukung aksi boikot jika mayoritas pemain sepakat.
Turnamen French Open 2026 sendiri dijadwalkan berlangsung pada 24 Mei hingga 7 Juni di Paris.
Selain isu hadiah, para pemain juga menuntut perbaikan dalam hal representasi, fasilitas kesehatan, hingga jaminan pensiun dari empat turnamen Grand Slam utama.
Empat ajang tersebut meliputi Australian Open, French Open, Wimbledon, dan US Open.
Dalam pernyataan bersama, para pemain menilai pengelolaan Grand Slam tertinggal dibanding olahraga global lain yang mulai mengedepankan transparansi dan kesejahteraan atlet.
“Mekanisme saat ini belum mencerminkan kepentingan pemain yang menjadi pusat kesuksesan olahraga ini,” tulis pernyataan tersebut.
Sebelumnya, kelompok pemain ini juga telah mengirim surat resmi kepada penyelenggara Grand Slam untuk meminta peningkatan hadiah serta keterlibatan dalam pengambilan keputusan penting.
Namun tidak semua pemain sepakat dengan wacana aksi ekstrem tersebut, karena Iga Swiatek menilai komunikasi masih menjadi solusi yang lebih ideal dibanding boikot.
Di sisi lain, Sabalenka juga menyoroti padatnya jadwal kompetisi WTA yang ia sebut “tidak masuk akal”, bahkan sempat mempertimbangkan absen dari beberapa turnamen.
Situasi ini menandai babak baru ketegangan antara pemain dan otoritas tenis global, yang berpotensi mengubah lanskap kompetisi jika konflik tidak segera diselesaikan.***