Nilai tukar Rupiah belum mampu keluar dari tekanan di pembukaan pekan ini. Menutup perdagangan Senin (11/5/2026), mata uang Garuda terpantau melemah 0,26% dan terlempar ke posisi Rp17.407/US$.
Pelemahan Rupiah sebenarnya sudah terasa sejak lonceng pembukaan pagi tadi saat dibuka melandai ke level Rp17.370/US$. Tekanan ini sejalan dengan menguatnya Indeks Dolar AS (DXY) yang merangkak naik ke level 98,001.
Investor terpantau kembali memburu “Greenback” sebagai aset penyelamat (safe haven). Hal ini dipicu oleh buntunya jalur diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran yang kini telah memasuki pekan ke-10. Ketegangan memuncak setelah Presiden AS Donald Trump secara tegas menolak proposal perdamaian dari Teheran, menyebut tawaran tersebut “sama sekali tidak dapat diterima.”
Iran dilaporkan hanya bersedia memindahkan stok uraniumnya ke negara ketiga tanpa mau membongkar infrastruktur nuklirnya. Sikap keras kedua negara ini membuat pasar khawatir akan ketidakpastian global yang berkepanjangan.
Padahal, dari sisi domestik, fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya menunjukkan sinyal positif. Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia terbaru, tingkat keyakinan masyarakat terhadap ekonomi nasional masih sangat terjaga.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 tercatat naik tipis ke level 123,0, membuktikan bahwa masyarakat tetap berada di zona optimistis. Kenaikan ini didorong oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang menguat ke angka 116,5. Sayangnya, sentimen positif dari dalam negeri ini harus “kalah suara” oleh derasnya arus sentimen negatif dari kancah global.