JAKARTA – Kebakaran hebat yang melanda kawasan pergudangan di Jalan Rawa Melati A, Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat, Senin (11/5) malam menimbulkan asap tebal.
Hal tersebut memaksa petugas pemadam kebakaran menggunakan robot khusus untuk menghadapi ancaman asap beracun dan ledakan bahan kimia dari dalam bangunan.
Peristiwa ini menjadi perhatian karena api tidak hanya membakar gudang, tetapi juga memicu ledakan beruntun akibat banyaknya botol berisi cairan kimia dan gas yang tersimpan di lokasi kejadian.
Petugas dari Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Barat bergerak cepat dengan mengerahkan puluhan unit mobil pemadam dan ratusan personel untuk mengendalikan kobaran api agar tidak menjalar ke bangunan lain di sekitar area pergudangan.
Proses lokalisasi api mulai menunjukkan hasil sejak Selasa (12/5) sekitar pukul 01.30 WIB setelah petugas berjibaku selama berjam-jam menghadapi medan yang dipenuhi material mudah terbakar.
Hingga pukul 02.00 WIB, proses pendinginan masih terus dilakukan untuk memastikan tidak ada bara api tersisa yang berpotensi memicu kebakaran susulan maupun menghasilkan asap berbahaya.
Dalam operasi besar tersebut, petugas mengerahkan sekitar 24 hingga 25 unit mobil pemadam dengan total personel mencapai 120 hingga 125 orang gabungan dari Jakarta Barat dan Jakarta Utara.
Langkah berbeda dilakukan petugas dengan menurunkan robot pemadam kebakaran ke titik api karena tingginya risiko paparan zat beracun dari asap hasil pembakaran bahan kimia di dalam gudang.
“Ya, salah satu fungsi unit robotik ini adalah untuk menghindarkan personel berhadapan langsung dengan potensi racun dari asap.”
“Jadi kita gunakan mobil robotik,” kata Kepala Seksi Operasi Sudin Gulkarmat Jakbar, Syaiful Kahfi kepada wartawan di lokasi, Senin (11/5) malam.
Robot pemadam tersebut sempat digunakan untuk menjinakkan kobaran api di area berbahaya yang sulit dijangkau personel secara langsung.
Namun, penggunaan robot tidak berlangsung lama karena alat tersebut membutuhkan tekanan air yang sangat besar sehingga operasinya dihentikan sementara setelah sekitar setengah jam digunakan.
“Nanti mungkin saat proses pendinginan, unit robotiknya baru kita mainkan lagi,” tutur Syaiful.
Setelah robot ditarik, proses pemadaman kembali dilakukan secara manual dengan pengamanan ketat terhadap personel yang bertugas di lapangan.
Para petugas diwajibkan mengenakan masker dan alat bantu pernapasan khusus guna mengantisipasi kemungkinan kandungan zat kimia beracun dalam asap tebal yang terus membumbung dari lokasi kebakaran.
Menurut Syaiful, sumber ancaman utama berasal dari banyaknya botol berisi bahan kimia dan gas yang tersimpan di gudang sehingga memicu ledakan berulang saat tersambar api.
“Ternyata gudang ini isinya banyak bahan kimia dan gas. Seperti tadi, banyak terjadi ledakan.”
“Ledakannya itu berasal dari barang-barang kecil, seperti botol tiner, tapi mungkin bukan tiner. Awal-awal memang banyak sekali ledakan,” kata Syaiful.
Ledakan tersebut membuat benda-benda kecil seperti botol dan tabung gas mini beterbangan ke udara sehingga kondisi di sekitar titik api dinilai sangat berbahaya bagi petugas maupun warga.
“Kalau dilihat, banyak lontaran-lontaran benda seperti botol parfum atau gas kecil yang terlempar ke atas.”
“Asapnya juga kita belum tahu mengandung bahan kimia atau racun apa. Oleh karena itu, anggota yang masuk ke dalam wajib memakai alat bantu pernapasan,” kata Syaiful.
Untuk mencegah api meluas, petugas menerapkan strategi penyemprotan dari berbagai arah dengan mengoperasikan sedikitnya 10 nozzle secara bersamaan.
Penyemprotan dilakukan dari sisi depan, tengah, samping, hingga titik rawan lain agar kobaran api dapat dikendalikan secara maksimal meskipun sempat terkendala pasokan air.
“Jadi, kita memadamkan dari berbagai sisi secara maksimal. Ada penembakan dari dua nozzle di titik tersebut, dua nozzle di tengah, dua nozzle di samping, dan dua nozzle di depan. Kurang lebih total ada 10 nozzle yang kita operasikan,” kata dia.
Syaiful menjelaskan sebagian bantuan armada juga datang dari wilayah Jakarta Utara setelah adanya laporan warga ke sektor terdekat di kawasan Kamal.
“Total ada 22 unit dari Jakarta Barat dan 3 unit dari Jakarta Utara. Karena ada warga yang melapor juga ke Kantor Sektor Kamal, jadi mereka memberangkatkan lebih dulu tiga unit yang posisinya persis berada di belakang lokasi,” jelas dia.
Hingga kini, petugas masih melakukan pendataan terkait status kepemilikan gudang yang terbakar karena belum diketahui apakah seluruh bangunan merupakan satu area usaha atau dimiliki pihak berbeda.
Meski kebakaran berlangsung besar dan disertai ledakan berkali-kali, pihak pemadam memastikan sementara ini belum ditemukan adanya korban jiwa dalam insiden tersebut.
“Untuk sementara nihil, tidak ada korban. Mudah-mudahan tidak ada korban jiwa,” papar Syaiful.***