JAKARTA – Militer Israel memperluas operasi di wilayah Tepi Barat yang diduduki dengan menangkap puluhan warga Palestina setelah insiden penembakan yang menewaskan empat warga Palestina dan dua tentara Israel.
Pada Sabtu (25/7), pasukan Israel menangkap hampir 50 warga Palestina di Desa Tal, barat daya Nablus, lokasi terjadinya penembakan sehari sebelumnya. Dalam operasi tersebut, militer juga menggerebek sekitar 70 rumah warga.
Rekaman yang beredar memperlihatkan dua pria Palestina dengan mata tertutup dibawa oleh tentara Israel. Militer Israel menyebut penangkapan tersebut sebagai bagian dari operasi “ekstensif” yang dilancarkan sebagai respons atas penembakan pada Jumat (24/7/2026).
Sehari sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersama Menteri Pertahanan Israel Israel Katz memerintahkan pelaksanaan “operasi militer berskala besar” di sejumlah desa Palestina di Tepi Barat menyusul serangan di dekat permukiman Havat Gilad yang menewaskan dua tentara Israel dan melukai tiga lainnya.
Di tengah operasi militer tersebut, sejumlah saksi dan sumber setempat melaporkan adanya serangan yang dilakukan pemukim Israel terhadap beberapa komunitas Palestina di Provinsi Nablus. Serangan itu disebut mengakibatkan rumah-rumah dan berbagai properti milik warga Palestina dibakar.
Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan sedikitnya 87 warga Palestina tewas dalam berbagai operasi dan serangan Israel di Tepi Barat sejak awal tahun. Dari jumlah tersebut, 21 orang dilaporkan tewas akibat serangan pemukim Israel.
Sementara itu, Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk wilayah Palestina yang diduduki, Francesca Albanese, mengecam meningkatnya serangan terhadap warga sipil Palestina. Melalui unggahan di media sosial X pada Sabtu, ia menyebut serangan tersebut sebagai “pogrom” dan mendesak diberlakukannya embargo senjata serta penghentian hubungan perdagangan dengan Israel.
“Pogrom terhadap warga sipil tak berdaya di seluruh Tepi Barat, sementara Gaza sedang diserang,” tulis Albanese di X, dilansir Aljazeera.
Ia juga menilai warga sipil Israel dan personel militer sama-sama terlibat dalam aksi kekerasan tersebut.
“Embargo senjata sekarang — hentikan perdagangan sekarang,” kata Albanese, seraya menambahkan bahwa langkah-langkah seperti itu diwajibkan menurut hukum internasional.
Sejumlah organisasi hak asasi manusia di Israel turut mendesak komunitas internasional mengambil langkah segera untuk menghentikan kekerasan pemukim terhadap warga Palestina yang disebut meningkat sejak pecahnya perang di Gaza pada 2023.
Operasi penangkapan Israel juga berlangsung di sejumlah wilayah lain, termasuk Kota Jenin, Tubas, Kamp Pengungsi Far’a, Desa Far’ata di timur Qalqilya, Kamp Pengungsi Aqbat Jabr di Jericho, serta Desa Kobar di Provinsi Ramallah dan el-Bireh. Di Desa Far’ata, sedikitnya delapan warga Palestina dilaporkan mengalami luka-luka.
Sementara itu, pemakaman empat warga Palestina yang tewas di Desa Tal pada Jumat digelar pada malam hari. Warga setempat menyebut prosesi tersebut dilakukan malam hari karena otoritas Israel tidak mengizinkan pemakaman berlangsung pada siang hari, dengan jumlah pelayat yang juga dibatasi.
Insiden penembakan di Tal menjadi salah satu yang paling mematikan dalam beberapa bulan terakhir. Kedua belah pihak memiliki versi berbeda mengenai kronologi kejadian.
Sejumlah rekaman yang beredar memperlihatkan pemukim Israel bersenjata menghadapi warga Palestina. Video lain menunjukkan seorang pria Palestina merebut senjata milik seorang pemukim sebelum menembaknya dalam insiden yang disebut sejumlah pihak sebagai tindakan membela diri. Pria tersebut kemudian ditembak mati oleh tentara Israel. Tiga warga Palestina lainnya juga dilaporkan tewas dalam insiden yang sama.
Aktivis hak asasi manusia asal Ramallah, Ubai Al Aboudi, menilai serangan pemukim terhadap desa-desa Palestina bukan merupakan peristiwa terpisah, melainkan pola kekerasan yang terus berulang di berbagai wilayah Tepi Barat.
“Yang disebut pendaki, seperti yang disebut pejabat Israel, datang ke desa, membakar rumah keluarga dengan keluarga itu masih di dalamnya, dan merupakan keajaiban bahwa penduduk Tal bisa mengeluarkan keluarga itu dari rumah sebelum mereka terbakar hidup-hidup,” kata Al Aboudi.
Human Rights Watch juga mendesak pemerintah Israel segera mengambil langkah untuk mencegah aksi balasan yang dilakukan para pemukim terhadap warga Palestina.
“Pemerintah Israel tidak mencegah serangan pemukim di desa Tal, jadi sekarang mereka perlu menghentikan pembalasan pemukim dan aksi militer yang meningkat yang akan memperburuk situasi buruk,” kata Sarah Sanbar, peneliti sementara Israel dan Palestina di Human Rights Watch.
“Bertahun-tahun tanpa hukum dan impunitas terhadap serangan telah mengubah Tepi Barat menjadi bubuk mesiu yang menunggu untuk meledak, dan tindakan tegas sangat dibutuhkan.”