JAKARTA — Situasi di Timur Tengah semakin membara. Pemerintah Iran secara resmi menolak proposal gencatan senjata terbaru yang disodorkan Amerika Serikat (AS). Penolakan tersebut terjadi di tengah gelombang serangan udara militer AS yang terus menggempur wilayah Iran selama hampir dua minggu berturut-turut.
Berdasarkan laporan New York Times* yang dilansir Anadolu Agency, usulan damai dari Washington tersebut disampaikan secara langsung oleh Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi, saat melakukan kunjungan diplomasi ke Teheran pada Kamis (23/7/2026). Proposal itu dibawa Al-Zaidi tak lama setelah dirinya melangsungkan pertemuan khusus dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih.
Sengketa Selat Hormuz Jadi Pemicu Utama
Meskipun rincian dokumen usulan damai tersebut tidak dibuka secara penuh ke publik, sumber internal dari pihak berwenang Teheran menyebutkan bahwa penolakan tegas ini didasari atas tidak masuknya poin kunci terkait jalur navigasi vital dunia.
“Proposal tersebut merupakan satu-satunya usulan yang ditawarkan saat ini. Namun, Teheran menolaknya karena dianggap tidak menyelesaikan perselisihan utama mengenai kendali atas Selat Hormuz,” ungkap seorang pejabat Iran yang mengetahui jalannya negosiasi.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur perairan yang amat krusial bagi lalu lintas pasokan minyak dan gas global, sehingga penguasaannya menjadi harga mati bagi keamanan ekonomi dan kedaulatan Iran.
Perlindungan Infrastruktur dan Potensi Perang Terbuka
Kunjungan PM Al-Zaidi ke Teheran menandai lawatan resminya yang pertama sejak dilantik pada Mei lalu. Dalam kesempatan tersebut, Al-Zaidi memboyong delegasi tingkat tinggi setingkat menteri untuk menemui Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, serta Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Selain membahas kerja sama bilateral di sektor perdagangan, energi, dan transportasi, pertemuan mendadak ini juga berfokus pada antisipasi eskalasi militer skala besar dari Gedung Putih.
Para pejabat tinggi Iran mengindikasikan bahwa seluruh elemen pemerintahan kini dalam posisi siaga penuh untuk menghadapi kemungkinan terburuk jika gertakan militer AS terealisasi.
“Laporan media lokal mengonfirmasi bahwa para pejabat Iran sedang bersiap menghadapi kemungkinan konflik yang lebih luas, terutama jika Trump merealisasikan ancamannya untuk menyerang Teheran dan infrastruktur vital lainnya,” tulis laporan tersebut.
Teheran Siapkan Balasan Regional hingga Tel Aviv
Ancaman balasan Iran jika diserang secara langsung diprediksi bakal meluas hingga ke tingkat regional dan melibatkan jaringan sekutunya di kawasan Timur Tengah.
Dua pejabat senior Iran menegaskan skala balasan yang siap dilancarkan Teheran jika konfrontasi militer melampaui batas toleransi.
“Serangan semacam itu akan mendorong Teheran untuk memperluas cakupan perang ke tingkat regional, termasuk dengan menargetkan Tel Aviv dan meminta kelompok Houthi di Yaman untuk menutup Selat Bab el-Mandeb,” tegas pejabat Iran tersebut kepada New York Times.
Penggempuran Malam Ke-13
Sikap keras Iran untuk memutus opsi gencatan senjata ini bertepatan dengan tindakan militer AS yang kian intensif. Hingga Jumat (24/7/2026) dini hari, pasukan militer AS dilaporkan terus menggempur sejumlah target strategis di wilayah Iran selama 13 malam berturut-turut.