JAKARTA – Gelombang dukungan publik terhadap tim SMAN 1 Pontianak usai kontroversi Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR 2026 berbuntut panjang. Ketua Komisi II DPR RI, Rifqinizamy Karsayuda, memastikan akan mencarikan beasiswa kuliah S1 ke China bagi seluruh anggota tim yang tampil dalam ajang tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Rifqi setelah bertemu langsung dengan para siswa SMAN 1 Pontianak di Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (13/5/2026). Awalnya, beasiswa hanya diberikan kepada Josepha Alexandra atau Ocha, siswi yang viral karena memprotes keputusan juri. Namun, Rifqi kemudian memutuskan seluruh anggota tim juga akan mendapatkan kesempatan serupa.
“Mudah-mudahan setelah ini selesai, saya juga kemarin secara spontan memberi apresiasi untuk memberi beasiswa studi S1 ke China kepada Ocha. Tadi saya udah sampaikan kepada adik-adik yang 9 lagi, saya akan carikan beasiswa yang sama untuk adik-adik yang 9 ini karena mereka kan nggak mungkin sampai pada titik ini kalau mereka nggak bareng,” kata Rifqi.
Keputusan itu langsung menjadi perhatian publik. Di tengah polemik penilaian lomba yang memancing kritik luas di media sosial, dukungan terhadap para siswa justru terus mengalir.
Dari Kontroversi Jadi Simpati Nasional
Nama tim SMAN 1 Pontianak mendadak viral setelah cuplikan video LCC Empat Pilar MPR tersebar di media sosial sejak Senin (11/5/2026). Dalam video tersebut terlihat perdebatan antara peserta dan juri terkait penilaian jawaban mengenai proses pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Saat itu, Grup C dari SMAN 1 Pontianak mendapat pengurangan nilai lima poin untuk jawaban yang mereka berikan. Sementara di sesi lain, Grup B dari SMAN 1 Sambas memperoleh nilai sempurna untuk jawaban yang dinilai memiliki substansi serupa.
Perbedaan penilaian itu memicu protes dari peserta SMAN 1 Pontianak. Mereka menilai jawaban yang disampaikan sejatinya tidak berbeda secara mendasar.
Juri lomba, Dyastasita, saat itu menjelaskan bahwa jawaban tim Pontianak dianggap tidak lengkap karena tidak secara eksplisit menyebut Dewan Perwakilan Daerah (DPD).
Namun penjelasan tersebut justru memicu gelombang kritik baru. Banyak warganet menilai penilaian dilakukan tidak konsisten dan merugikan peserta.
Rifqi Bangga dengan Cara Bicara Para Siswa
Di tengah ramainya polemik, Rifqi memilih memberi apresiasi kepada para siswa. Politikus yang juga alumni SMAN 1 Pontianak itu mengaku kagum dengan kemampuan komunikasi para peserta, terutama saat menyampaikan keberatan secara terbuka namun tetap tenang.
Menurut dia, kemampuan berbicara dan menyampaikan argumen para siswa jauh lebih baik dibanding dirinya ketika masih duduk di bangku SMA.
“Saya kira saya terkejut melihat kemampuan komunikasi adik-adik saya. Ini kan kalau saya dulu berarti kelas 1, kelas 2 SMA. Waktu itu saya memimpin OSIS di SMA ini nggak sebagus ini kemampuan komunikasi saya,” ujarnya.
Ia menegaskan capaian para siswa bukan hasil kerja individu, melainkan buah kekompakan tim yang dibangun bersama.
“Ini kan kerja kolektif dan saya kira saya mengapresiasi adik-adik saya ini hebat semua. Terima kasih atas apresiasi publik untuk SMA Negeri 1 Pontianak,” lanjutnya.
Sorotan Publik Jangan Jadi Tekanan Mental
Rifqi juga mengingatkan agar perhatian besar publik terhadap kasus tersebut tidak berubah menjadi tekanan psikologis bagi peserta yang masih berusia remaja.
Ia meminta semua pihak tetap menjaga ruang aman bagi para siswa di tengah derasnya perdebatan di media sosial.
“Yang tidak kalah penting kita juga harus sadar mereka adalah remaja yang secara psikologi harus kita proteksi,” katanya.
Pernyataan itu dinilai penting mengingat nama para peserta terus menjadi perbincangan di berbagai platform digital dalam beberapa hari terakhir.
Ocha: Dukungan Publik Jadi Penyemangat
Sementara itu, Josepha Alexandra atau Ocha menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan yang diberikan masyarakat kepada timnya.
Ia mengatakan perhatian publik menjadi motivasi besar bagi dirinya dan rekan-rekan untuk terus berkembang.
“Dari saya dan tim berterima kasih kepada masyarakat atas dukungan dan aspirasi positifnya kepada kami. Semoga hal ini dapat menjadi semangat dan motivasi kami untuk berkembang dan maju lagi ke depannya,” ujar Ocha.
MPR Copot Juri dan MC LCC
Polemik penilaian LCC Empat Pilar MPR akhirnya mendapat respons resmi dari Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. Melalui pernyataan resminya, MPR mengumumkan penonaktifan dewan juri dan MC yang bertugas dalam perlombaan tersebut.
“Terkait ramainya pemberitaan di media sosial tentang LCC Empat Pilar 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat, mengenai penilaian jawaban peserta pada salah satu sesi lomba, panitia pelaksana dari Sekretariat Jenderal MPR RI telah menonaktifkan dewan juri dan MC pada kegiatan LCC ini,” tulis pernyataan resmi MPR, Selasa (12/5/2026).
Selain itu, MPR memastikan evaluasi menyeluruh akan dilakukan untuk menjaga kredibilitas ajang pendidikan kebangsaan tersebut agar polemik serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang.