Pembalap andalan Yamaha, Fabio Quartararo, mengakui betapa beratnya beban mental yang harus dihadapi para pembalap saat harus melakukan restart (start ulang) di MotoGP Catalunya 2026. Juara dunia 2021 itu mengaku gemetar setelah menyaksikan langsung dampak kecelakaan mengerikan yang menimpa Alex Marquez.
Balapan di Sirkuit Barcelona akhir pekan lalu berubah menjadi mencekam pada lap ke-12. Pembalap Gresini Ducati, Alex Marquez, terlibat tabrakan hebat dalam kecepatan tinggi dengan Pedro Acosta (KTM) di trek lurus antara Tikungan 9 dan 10.
Motor Acosta tiba-kira kehilangan tenaga akibat masalah kelistrikan mendadak, membuat Alex Marquez yang berada tepat di belakangnya tidak punya ruang untuk menghindar. Benturan keras itu membuat Marquez terlempar dalam kecelakaan yang mengerikan hingga menderita patah tulang multipel. Beruntung, operasi berjalan sukses dan ia sudah diizinkan meninggalkan rumah sakit pada Senin sore.
βSaya Sampai Merindingβ¦β
Melihat kecelakaan sengeri itu, balapan langsung dihentikan lewat kibaran bendera merah (red flag). Namun, ketegangan belum usai. Panitia memutuskan untuk memulai ulang balapan, situasi yang menurut Quartararo sangat menyiksa mentalnya sebagai pembalap.
βSama sekali tidak mudah untuk melakukan start ulang setelah Anda melewati jembatan di Tikungan 10 dan melihat Alex terkapar di atas aspal,β ungkap Fabio Quartararo jujur.
βSaya sampai merinding. Kemudian ada restart kedua (setelah kecelakaan Johann Zarco). Hal paling berbahaya di MotoGP adalah momen start, dan saya sangat tidak menyukainya. Tapi saya berharap dan mendoakan agar semua pembalap yang cedera bisa segera pulih. Hari ini benar-benar hari yang sulit.β
Berkah di Balik Kekacauan, Tapi Yamaha Masih βBuntuβ
Sebelum balapan dihentikan untuk pertama kalinya, Quartararo sebenarnya sedang terseok-seok di posisi ke-14. Namun, rentetan kecelakaan dan penalti yang menimpa pembalap lain justru membawa berkah tersendiri baginya. Setelah tiga kali start, pembalap asal Prancis ini secara tak terduga berhasil menyodok dan finish di posisi kelima.
Quartararo mengakui bahwa performanya terbantu oleh kondisi sirkuit yang berubah. Akibat balapan yang berulang kali dihentikan, sisa-sisa karet ban Michelin yang menempel di aspal membuat cengkeraman (grip) sirkuit menjadi jauh lebih baik pada start ketiga.
βSecara otomatis, motor terasa berubah menjadi lebih baik karena sirkuit lebih menggigit,β jelasnya.
Meski berhasil membawa pulang poin besar, Quartararo sama sekali tidak tersenyum. Ia mengaku lelah secara fisik dan mental, serta frustrasi karena Yamaha sebenarnya sama sekali tidak membuat kemajuan teknis pada motor YZR-M1 miliknya.
βTapi masalahnya tetap sama; kami belum menemukan cara untuk melangkah maju. Kemampuan motor saat menikung, hingga top speed kamiβ¦ kami benar-benar tertinggal jauh dan kami tidak tahu lagi bagaimana cara memperbaikinya. Jujur, saya agak lelah dengan situasi ini,β pungkas Quartararo dengan nada pasrah.