Sebuah fenomena politik tak biasa sedang mengguncang jagat maya India. Hanya dalam hitungan hari, sebuah gerakan satir bernama Cockroach Janta Party (CJP) atau “Partai Kecoak” mendadak viral dan sukses menjaring jutaan pengikut. Uniknya, popularitas akun media sosial gerakan parodi ini bahkan berhasil menumbangkan jumlah pengikut akun resmi milik partai penguasa yang dipimpin Perdana Menteri Narendra Modi.
Lahirnya CJP dipicu oleh gelombang amarah netizen terhadap pernyataan kontroversial Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, dalam sebuah persidangan. Sang hakim agung kedapatan melontarkan analogi yang membandingkan anak muda pengangguran dengan kecoak dan parasit.
Meski Surya Kant buru-buru mengklarifikasi bahwa sindiran tersebut ditujukan untuk pemilik gelar akademik palsu—bukan generasi muda secara umum—nasi telah menjadi bubur. Pernyataan tersebut telanjur menyebar luas dan membakar emosi publik.
Suara Kaum Pemalas, Pengangguran, dan Pengeluh Profesional
Sebagai bentuk perlawanan, hadirlah Cockroach Janta Party, sebuah nama plesetan yang mempelesetkan Bharatiya Janata Party (BJP)—partai penguasa India sejak 2014. CJP tentu saja bukan partai politik resmi, melainkan wadah satir berbasis internet. Syarat keanggotaannya pun dibuat sekocak mungkin, seperti: wajib berstatus pengangguran, kaum rebahan/pemalas, kecanduan scrolling medsos, hingga memiliki bakat mengeluh di tingkat profesional.
Gerakan ini diotaki oleh Abhijeet Dipke, seorang mahasiswa Boston University sekaligus pakar komunikasi politik yang dulunya pernah memperkuat tim media sosial Aam Aadmi Party (AAP).
Dalam manifesto di situs resminya, CJP dengan bangga mendeklarasikan diri sebagai “suara kaum malas dan pengangguran”, lengkap dengan slogan: Nol Sponsor, Satu Kawanan Keras Kepala. Menariknya, pemilihan kecoak sebagai maskot dinilai sangat filosofis oleh para pendukungnya.
Kecoak bukanlah pahlawan, melainkan simbol mahluk tangguh yang punya daya adaptasi tinggi dan mampu bertahan hidup dalam kondisi seburuk apa pun dengan ekspektasi yang rendah.
Tagar #SayaJugaKecoak Mengguncang Dunia Nyata
Hanya dalam waktu singkat, puluhan ribu anak muda India mendaftarkan diri lewat formulir digital disertai gaungan tagar #MainBhiCockroach (“Saya Juga Kecoak”). Fenomena ini bahkan ikut disorot oleh tokoh oposisi India, Akhilesh Yadav, yang mencuitkan kalimat provokatif di akun X miliknya: “BJP vs CJP”.
Gelombang “Kecoak” ini pun merembes ke dunia nyata. Banyak relawan muda turun ke jalan melakukan aksi protes dan kegiatan sosial sembari mengenakan kostum kecoak sebagai bentuk penerimaan satir atas label merendahkan dari pejabat negara.
Puncaknya terjadi ketika akun Instagram CJP berhasil menembus 10 juta followers, menyalip akun resmi BJP yang “hanya” mengantongi 8,7 juta pengikut. Padahal, BJP selama ini mengklaim diri sebagai partai politik terbesar di dunia berdasarkan jumlah anggota fisik. Imbas ledakan popularitas ini, pemerintah India langsung memblokir akun X resmi milik CJP di wilayahnya dengan alasan pemenuhan tuntutan hukum.
Meskipun melejit secara digital, pengamat menilai CJP belum memiliki modal kuat untuk bertransformasi menjadi partai politik riil demi menggoyang dominasi BJP atau partai oposisi Kongres. Kendati demikian, gerakan ini berhasil menjadi indikator akurat atas rasa frustrasi akut yang dialami generasi muda India terhadap lanskap politik tradisional.