Jerit pilu dan kekejaman membayang-bayangi kepulangan sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi relawan armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF). Usai diculik selama beberapa hari oleh pasukan pertahanan Israel (IDF) di perairan internasional, para relawan yang terdiri dari aktivis kemanusiaan dan jurnalis ini akhirnya berhasil dibebaskan. Setibanya di Istanbul, Turki, mereka membeberkan runtunan penyiksaan keji yang mereka alami di tangan militer Israel.
Rahendro Herubowo, mantan jurnalis iNews, menceritakan bagaimana tubuhnya dijadikan sansak hidup oleh tentara Israel tanpa alasan yang jelas.
“Saya mengalami beberapa kekerasan fisik. Ditendang sekitar 3 hingga 4 kali di bagian depan, punggung saya diinjak-injak, dan terakhir mereka menyetrum saya,” ungkap Heru dengan nada getir saat diwawancarai oleh aktivis kemanusiaan Chiki Fawzi melalui unggahan video di akun @chikifawzi.
Akibat penyiksaan brutal tersebut, Heru mengaku merasakan nyeri hebat di bagian dadanya. “Jadi kalau saya batuk, rasanya sakit seperti ketarik di dalam sini. Mudah-mudahan tidak ada cedera organ dalam yang serius. Nanti kalau butuh pemeriksaan lanjutan, saya pilih di Rumah Sakit Indonesia saja,” tambahnya.
Taktik Manis Berujung Siksaan Brutal di Ashdod
Kesaksian tak kalah mengerikan datang dari Andre Prasetyo Nugroho, jurnalis Tempo TV. Ia mengungkapkan bahwa pasukan Israel awalnya menggunakan taktik persuasif dan berpura-pura ramah saat mengintersepsi kapal sipil damai GSF.
“Everything is okay, it’s fine, it’s fine (Semua aman, tidak apa-apa), kata mereka di awal. Tapi begitu kami dipindahkan dan masuk ke kapal perang besar mereka, langsung bak-buk-bak-buk! Kami dipukuli dan mereka berteriak meneriaki kami: ‘Teroris! Teroris!’. Saat itu saya menengok dan melihat Thoudy (relawan WNI lainnya) sudah lemas tak berdaya, seperti mau mati,” kenang Andre emosional.
Puncak kebiadaban tentara Israel terjadi ketika armada mendarat di Kota Ashdod, Israel. Di atas tanah sengketa itu, para relawan diperlakukan layaknya tawanan perang kelas berat.
“Pas sudah sampai Ashdod, di atas tanah, wah itu perlakuan paling keji. Benar-benar tidak bisa saya maafkan. Kepala saya dipaksa menunduk dalam-dalam hingga jidat menahan tanah, mungkin ini kepala saya sampai cekung. Tangan saya diikat ke belakang dengan sangat kencang sampai aliran darah berhenti. Itu membuat saya mau pingsan, apalagi pergelangan tangan saya terus-menerus ditarik paksa,” tutur Andre seraya menunjukkan bekas luka di tangannya.
Misi Kemanusiaan Dunia yang Dihantam Peluru
Sembilan WNI tangguh yang sempat ditahan tersebut adalah jurnalis Republika Bambang Noroyono dan Thoudy Badai; Andre Prasetyo Nugroho (Tempo TV); Rahendro Herubowo (eks iNews); Andi Angga Prasadewa (Rumah Zakat); Herman Budianto Sudarno dan Ronggo Wirosanu (Dompet Dhuafa); serta Hendro Prasetyo dan Asad Aras Muhammad dari Global Peace Convoy Indonesia (GPCI).
Mereka merupakan bagian dari aksi sipil damai GSF yang diikuti oleh 430 relawan dari 39 negara di dunia. Misi utama mereka murni kemanusiaan: membawa obat-obatan dan logistik untuk menembus blokade ilegal Israel demi menolong warga di Jalur Gaza, Palestina.
Pemulangan kesembilan WNI ini berhasil terlaksana berkat diplomasi kilat dan koordinasi erat antara Pemerintah RI, perwakilan diplomatik, serta otoritas Turki.
Merespons tragedi ini, Menteri Luar Negeri RI Sugiono langsung melayangkan kecaman keras terhadap tindakan militer Israel. Menlu menegaskan bahwa segala bentuk penganiayaan dan tindakan tidak manusiawi terhadap relawan medis dan kemanusiaan internasional di perairan lepas merupakan pelanggaran fatal terhadap hukum internasional serta mencederai prinsip dasar kemanusiaan sejagat.




