Sudah delapan hari berlalu sejak api pertama kali mengamuk pada Senin (18/5/2026) siang, namun kompleks pergudangan di Jalan Peternakan Raya, Gang Semut, Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat, masih menjadi neraka kecil. Petugas pemadam kebakaran (Damkar) hingga kini masih harus berjibaku melawan bara api yang menolak mati. Material plastik yang bebal, runtuhnya struktur bangunan, hingga drama kerusakan alat berat menjadi rintangan super berat di lapangan.
Petaka ini bermula saat api dengan cepat melahap isi gudang hingga memicu ledakan hebat yang terekam kamera amatir warga. Sudin Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Barat saat itu langsung bergerak cepat dengan mengerahkan 27 unit mobil pemadam dan 135 personel ke lokasi kejadian.
“Kami menerima laporan pukul 14.23 WIB. Petugas berangkat satu menit kemudian dan tiba di lokasi dalam waktu enam menit,” ungkap Kasie Ops Sudin Gulkarmat Jakarta Barat, Syaiful Kahfi. Namun, kecepatan respons itu kini membentur dinding kendala yang rumit.
Titik Api Terjebak di Bawah Reruntuhan Lantai Dua
Meski kobaran api raksasa berhasil dijinakkan pada hari-hari pertama, proses pendinginan (cooling down) justru menjadi mimpi buruk bagi petugas. Konstruksi lantai dua bangunan yang terbuat dari beton, baja, dan tembok runtuh total dan menimbun gunungan biji plastik di bawahnya.
“Kendalanya karena barangnya ketiban tembok. Kita tidak bisa menyiram langsung ke sumber api. Tumpukan baja dan beton lantai dua yang ambruk itu menutupi titik api. Plastik-plastik dan biji plastik di dalam itu masih menyala, jadi susah untuk kita jangkau,” jelas Kasie Sarana Operasi Damkar Jakarta Barat, Danang Darul Fadli.
Efeknya, semprotan air dari selang pemadam hanya basah di permukaan luar, sementara bara api di lapisan bawah terus menyala dalam senyap. Kondisi ini bahkan sempat memicu kepanikan warga pada Minggu (24/5/2026) malam. Sore harinya, petugas sempat ditarik mundur karena situasi dinilai sudah kondusif. Namun, hanya beberapa jam setelah Damkar pulang, api di bawah puing-puing kembali berkobar.
“Kemarin hari Minggu jam 16.00 WIB petugas damkar sudah pada pulang. Eh, jam 20.00 WIB malah menyala lagi,” kata Tuti, seorang warga setempat yang cemas.
Drama Alat Berat Rusak dan Sorotan Anggaran Pajak
Satu-satunya solusi untuk memutus rantai kebakaran ini adalah mengeruk puing-puing menggunakan ekskavator atau beko. Sayangnya, institusi Damkar tidak memiliki alat berat sendiri dan harus bergantung pada fasilitas yang disediakan oleh pemilik gudang.
Ironisnya, ekskavator yang disediakan pemilik gudang tidak beroperasi maksimal, hanya bekerja beberapa jam di siang hari, dan kini justru mengalami kerusakan total. Tanpa alat berat untuk membongkar beton, upaya pemadam manual dipastikan akan sia-sia.
Danang menegaskan bahwa pihaknya kini menolak melakukan penyiraman buta tanpa adanya kepastian alat berat baru di lokasi. Hal ini dilakukan demi efisiensi dan transparansi penggunaan anggaran daerah.
“Intinya kami tidak mau kalau tidak ada beko. Nanti malah jadi boros BBM (Bahan Bakar Minyak) saja tapi operasinya tidak maksimal. Ingat, operasional kami ini dibiayai menggunakan uang pajak masyarakat,” tegas Danang.
Hingga saat ini, Sudin Gulkarmat Jakarta Barat masih menyiagakan tiga unit armada pemadam dan 25 personel di lokasi, sembari menunggu kedatangan alat berat baru yang dijanjikan untuk mengakhiri drama kebakaran delapan hari ini.