Lewis Hamilton akhirnya berhasil mengakhiri periode pasang-surut performanya selama 17 bulan terakhir bersama Ferrari melalui penampilan memukau di GP Kanada. Pembalap legendaris berusia 41 tahun ini sukses mengunci posisi kedua—pencapaian terbaiknya sejak kepindahan bombastis dari Mercedes. Usai balapan, Hamilton membongkar satu keputusan radikal yang menjadi kunci utama di balik kebangkitannya.
Sepanjang akhir pekan di Sirkuit Gilles Villeneuve, Montreal, sang juara dunia tujuh kali ini tampil jauh lebih dominan ketimbang rekan setimnya, Charles Leclerc. Memulai balapan dari posisi kelima, Hamilton menyajikan aksi memukau di lintasan hingga puncaknya sukses menyalip rival abadinya, Max Verstappen, di lap-lap akhir demi mengamankan podium kedua.
“Saya sangat menikmati akhir pekan ini, di setiap putarannya,” ungkap Hamilton penuh kegembiraan. “Saya merasa kami memulai balapan dengan langkah dan sikap yang tepat, serta mobil ini secara umum terasa luar biasa.
Meraih posisi kedua pertama saya bersama tim ini adalah sesuatu yang saya perjuangkan dengan sangat keras. Saya bahkan tidak bisa menjelaskan seberapa dalam saya harus menggali potensi diri dan bekerja di balik layar demi performa seperti ini.”
Buang Teknologi Simulator, Hamilton Pilih Metode Old School
Menariknya, rahasia di balik performa moncer Hamilton akhir pekan ini adalah keputusannya untuk mogok menggunakan simulator canggih milik Ferrari menjelang GP Kanada. Ketika ditanya apa yang membedakan penampilannya kali ini dengan seri-seri sebelumnya, ia menjawab dengan blak-blakan.
“Ini soal persiapan. Saya memilih konfigurasi (set-up) mobil yang berbeda akhir pekan ini murni hasil dari menyaring data manual dan bekerja sangat baik dengan insinyur balap saya,” jelas Hamilton. “Tim mekanik saya melakukan pekerjaan fantastis untuk memeras performa mobil hingga masuk ke titik terbaik (sweet spot). Hasilnya, saya akhirnya bisa menyerang di setiap tikungan dengan agresif.”
Hamilton juga memuji sang bos, Fred Vasseur, yang bersedia mendengarkan masukan radikalnya. “Ada banyak perubahan yang saya minta, dan Fred sangat mendukung. Dia siap memindahkan gunung demi membuat saya nyaman di kokpit, dan itu akhirnya mulai terlihat pada performa saya.”
Andalkan Insting Ketimbang Alat Digital
Keberhasilan di Kanada membuat Hamilton semakin yakin bahwa dirinya jauh lebih baik membalap tanpa bantuan simulator berteknologi tinggi. Ia lebih memilih mengandalkan pengalaman belasan tahun dan insting balapnya yang tajam.
Bagi Hamilton, satu-satunya masukan valid hanya bisa datang dari pembalap utama yang merasakan langsung guncangan mobil di atas sirkuit nyata.
“Jika Anda melihat dua balapan terbaik yang saya jalani, saya sama sekali tidak menggunakan simulator. Jujur, memang begitu kenyataannya. Bahkan di hampir semua gelar juara dunia yang saya raih dahulu—kecuali mungkin tahun 2008—saya tidak pernah menggunakan simulator. Jadi, alat itu bukan sebuah keharusan. Itu memang alat yang kuat, tapi bagi saya, saya ini old school. Saya rasa saya jauh lebih baik tanpa alat itu,” pungkas Hamilton menohok.