Balapan dramatis di GP Kanada akhir pekan lalu menyisakan cerita kelam bagi pembalap Mercedes, George Russell. Menghadapi kenyataan pahit gagal finis (retirement) saat sedang memimpin balapan, pembalap asal Inggris berusia 28 tahun ini sempat mengamuk dan melakukan aksi nekat melempar pelindung kepala (headrest) miliknya ke tengah sirkuit. Sadar aksinya membahayakan, Russell akhirnya merilis permintaan maaf resmi kepada para petugas trek (marshal).
Sebelum petaka terjadi, Russell terlibat duel maut yang sangat menegangkan dengan rekan setimnya di Mercedes, sang bintang muda Andrea Kimi Antonelli. Keduanya saling sikut dan bergantian memimpin balapan selama 30 lap pertama di Sirkuit Gilles Villeneuve, Montreal. Namun secara mengejutkan, jet darat W17 milik Russell mendadak mati total akibat kegagalan unit daya (power unit failure).
Hancur karena kemenangan di depan mata sirna begitu saja, Russell meluapkan amarahnya. Ia memukul bagian depan mobilnya dengan keras sebelum akhirnya mencopot headrest dari kokpit dan melemparkannya begitu saja ke atas aspal sirkuit.
Lolos dari Hukuman Berat Berkat Pengakuan Dosa
Aksi emosional tersebut langsung masuk dalam radar investigasi pengawas balapan (stewards). Russell dijatuhi denda sebesar €5.000 (sekitar Rp86 juta) yang ditangguhkan selama 12 bulan—dengan syarat ia tidak boleh mengulangi tindakan serupa.
Pembalap bernomor mobil 63 ini mendapatkan keringanan hukuman setelah dirinya mendatangi stewards untuk mengakui kesalahan dan menyatakan rasa malunya yang mendalam atas insiden tersebut.
“Pengemudi menjelaskan bahwa ia sangat frustrasi karena gagal menyelesaikan balapan, dan mengaku malu atas apa yang ia lakukan setelahnya,” tulis rilis resmi stewards. “Ia meminta maaf dan mengakui bahwa tindakannya tidak memberikan contoh yang baik, serta menawarkan diri untuk meminta maaf secara terbuka.”
Russell menepati janjinya. Melalui akun media sosial X pribadinya, ia mengunggah pesan penyesalan: “Mohon maaf kepada para marshal & FIA karena telah membuat pekerjaan mereka menjadi lebih sulit dari yang seharusnya. Banyak emosi yang berkecamuk pada momen tersebut.”
Kemenangan Sempurna yang Berakhir Tragis
Kegagalan finis ini menjadi yang pertama bagi Russell sejak GP Inggris 2024 lalu. Dampaknya pun sangat mahal; ia kini tertinggal 43 poin dari Antonelli yang justru sukses mengunci kemenangan keempatnya secara beruntun musim ini. Padahal, sebelum mesin mobilnya mati, Russell tampil luar biasa dominan sepanjang akhir pekan.
“Semuanya mati begitu saja secara tiba-tiba,” ungkap Russell dengan sisa-sisa rasa tidak percaya. “Saat masuk tikungan, mesin mati, sistem elektronik padam, bahkan rem tidak berfungsi normal. Sejujurnya saya kehabisan kata-kata saat ini.”
“Namun, saya bangga dengan akhir pekan ini. Saya meraih pole di sprint, memenangkan sprint, dan meraih pole position utama saat kualifikasi. Saya sedang memimpin balapan dan menikmati duel sengit melawan Kimi. Dari sisi saya, tidak ada lagi yang bisa saya lakukan. Saya pulang dengan rasa puas atas performa saya, meski tentu saja, saya sangat frustrasi dengan apa yang terjadi pada mobil ini,” pungkas Russell getir.



