JAKARTA – Polusi udara Jakarta kembali menghadapi persoalan saat momen Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah.
Di tengah ekspektasi masyarakat bahwa libur panjang dan menurunnya aktivitas kendaraan dapat memperbaiki kualitas udara, kondisi di lapangan justru menunjukkan hal berbeda.
Berdasarkan sejumlah pemantauan kualitas udara internasional, Jakarta masih masuk dalam daftar kota dengan tingkat polusi udara terburuk di dunia selama periode Iduladha.
Data dari situs pemantau kualitas udara IQAir menunjukkan indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) Jakarta berada pada level tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Bahkan pada waktu tertentu, Jakarta sempat menempati posisi kedua hingga keempat kota dengan udara terburuk di dunia. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran masyarakat, terutama bagi warga yang memiliki gangguan pernapasan.
Fenomena ini menjadi ironi tersendiri. Pasalnya, momen cuti bersama Iduladha identik dengan berkurangnya aktivitas perkantoran, lalu lintas yang lebih lengang, dan menurunnya mobilitas masyarakat di ibu kota.
Banyak pihak berharap kondisi tersebut dapat memberi ruang bagi kualitas udara Jakarta untuk membaik, sebagaimana yang pernah terjadi pada beberapa periode libur panjang sebelumnya.
Namun, harapan tersebut belum sepenuhnya terwujud. Pengamat lingkungan menilai polusi udara Jakarta bukan hanya dipengaruhi oleh kendaraan bermotor, tetapi juga berasal dari berbagai sumber lain yang saling berkontribusi.
Mulai dari emisi industri, aktivitas pembangkit listrik berbahan bakar fosil, hingga kondisi cuaca dan arah angin yang membuat polutan tertahan di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Selain itu, cuaca panas dengan minim curah hujan turut memperparah konsentrasi partikel polutan di udara.
Dalam kondisi atmosfer tertentu, partikel halus seperti PM2.5 dapat bertahan lebih lama dan terhirup oleh masyarakat.
Partikel PM2.5 sendiri dikenal berbahaya karena ukurannya sangat kecil sehingga dapat masuk hingga ke paru-paru dan aliran darah.
Masyarakat pun mulai merasakan dampak dari kualitas udara yang memburuk tersebut.
Sejumlah warga mengaku mengalami gangguan pernapasan ringan seperti batuk, tenggorokan kering, hingga sesak napas ketika beraktivitas di luar ruangan.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita asma menjadi pihak yang paling berisiko terdampak paparan polusi udara tinggi.
Pemerintah sebenarnya telah berupaya melakukan berbagai langkah pengendalian polusi udara dalam beberapa tahun terakhir.
Kebijakan uji emisi kendaraan, pembatasan operasional kendaraan berat, hingga penerapan transportasi publik terus didorong untuk mengurangi emisi di ibu kota.
Namun, efektivitas kebijakan tersebut dinilai masih membutuhkan evaluasi dan pengawasan yang lebih ketat.
Pengamat transportasi dan lingkungan menilai penanganan polusi udara di Jakarta tidak bisa dilakukan secara parsial.
Dibutuhkan kerja sama lintas daerah di kawasan Jabodetabek karena sumber pencemar udara tidak hanya berasal dari wilayah administrasi Jakarta.
Mobilitas kendaraan dari kota penyangga serta aktivitas industri di sekitar ibu kota turut memengaruhi kualitas udara harian.
Di sisi lain, masyarakat juga diimbau untuk mulai meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya menjaga kualitas udara.
Penggunaan transportasi umum, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, hingga memperbanyak ruang terbuka hijau dinilai dapat menjadi bagian dari solusi jangka panjang.
Tenaga kesehatan turut mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada ketika kualitas udara berada pada level buruk.
Penggunaan masker saat beraktivitas di luar ruangan dianjurkan guna mengurangi paparan partikel polutan.
Selain itu, warga disarankan membatasi aktivitas luar ruangan, terutama pada pagi dan sore hari ketika konsentrasi polusi cenderung meningkat.
Kondisi kualitas udara Jakarta yang kembali memburuk saat Iduladha menjadi pengingat bahwa persoalan polusi udara masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah dan masyarakat.
Libur panjang yang seharusnya dapat menjadi momentum perbaikan kualitas udara ternyata belum cukup mampu mengatasi kompleksitas sumber pencemaran di ibu kota.
Jika tidak ditangani secara serius dan berkelanjutan, polusi udara dikhawatirkan akan terus berdampak pada kesehatan masyarakat serta menurunkan kualitas hidup warga perkotaan.
Karena itu, dibutuhkan langkah konkret, konsisten, dan kolaboratif agar harapan menghadirkan udara bersih di Jakarta tidak sekadar menjadi wacana setiap kali musim liburan tiba. (FB)