JAKARTA – Militer Amerika Serikat melancarkan “serangan bela diri” terhadap situs radar drone Iran pada akhir pekan, setelah Teheran diduga menembak jatuh pesawat tak berawak M1-1 milter AS di atas perairan internasional.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan operasi tersebut berlangsung Sabtu dan Minggu. “Serangan yang terukur dan disengaja itu terjadi sebagai tanggapan terhadap tindakan agresif Iran,” tulis CENTCOM dalam pernyataan resmi yang dilansir Türkiyetoday, Senin (1/6/2026). Serangan udara AS menghancurkan sistem pertahanan Iran, stasiun kendali darat, serta dua drone serang satu arah yang dianggap mengancam kapal di kawasan. Tidak ada korban dari pihak AS.
Tak lama setelah itu, militer Kuwait mengaktifkan sistem pertahanan udaranya. Sirene peringatan berbunyi di seluruh negeri, sementara ledakan terdengar akibat upaya pencegahan terhadap ancaman rudal dan drone. Warga diminta mengikuti instruksi keamanan resmi.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi serangan AS menargetkan menara komunikasi di Pulau Sirik, Hormozgan. IRGC mengklaim membalas dengan menyerang pangkalan udara AS di Kuwait. Pasukan Iran memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut akan memicu respons yang lebih luas.
Ketegangan ini menyusul baku tembak pekan lalu di Bandar Abbas, dekat Selat Hormuz, ketika rudal Iran diarahkan ke pangkalan udara AS di Kuwait. Meski konfrontasi berlanjut, jalur diplomasi tetap terbuka.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa negosiasi dengan Washington masih berlangsung. “Jangan menarik kesimpulan pasti sebelum pembicaraan menghasilkan hasil konkret,” ujarnya, menekankan bahwa laporan media masih bersifat spekulatif.
Presiden AS Donald Trump juga menyinggung usulan kesepakatan dengan Iran. Dalam unggahan di Truth Social, ia menulis bahwa kesepakatan tersebut “menyatakan, dengan sangat jelas, bahwa Iran tidak akan memiliki Senjata Nuklir.” Trump menambahkan, Iran “benar-benar ingin mencapai kesepakatan” dan menyatakan keyakinannya bahwa negosiasi akan berakhir menguntungkan bagi AS dan sekutunya.
Sementara itu, media Iran melaporkan Teheran berencana mengajukan amandemen terhadap rancangan perjanjian, meski belum merinci isi perubahan yang diusulkan.