Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemerintah tengah mengerahkan upaya besar untuk menyediakan obat-obatan murah berkualitas bagi seluruh lapisan masyarakat. Komitmen ini disampaikan langsung oleh Kepala Negara saat memberikan sambutan dalam peresmian RSUD K.H. Muhammad Thohir di Krui, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung.
Presiden menargetkan, dalam kurun waktu satu tahun ke depan, masyarakat sudah bisa merasakan dampak nyata dari kemudahan akses terhadap obat-obatan generik dengan harga yang sangat terjangkau.
“Kita akan usahakan obat kepada rakyat semurah-murahnya. Dalam setahun ini saya harap kita bisa berikan obat generik yang murah kepada rakyat,” tegas Presiden Prabowo dalam pidatonya yang disiarkan secara virtual melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (10/6/2026).
Selain membawa misi pengadaan obat murah, Prabowo menaruh harapan besar agar RSUD K.H. Muhammad Thohir dapat bertransformasi menjadi pusat pelayanan kesehatan utama yang memuaskan bagi warga di pesisir barat Lampung. Ia juga memberikan peringatan keras kepada seluruh aparatur tenaga kesehatan untuk menjaga integritas.
“Saya juga berpesan tidak boleh ada penyelewengan, tidak boleh ada korupsi pada pelayanan terhadap rakyat,” cetus Prabowo mengingatkan.
Oase di Tengah Badai Pelemahan Rupiah
Janji manis yang dilontarkan Presiden Prabowo seolah menjadi oase di tengah kecemasan publik. Pasalnya, industri farmasi dalam negeri saat ini tengah dibayangi potensi lonjakan harga obat akibat merosotnya nilai tukar Rupiah yang sempat mencetak rekor tertinggi hingga menembus level Rp18.000 per US$.
Kondisi ini kian pelik lantaran struktur industri farmasi Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan baku dari luar negeri. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menampung keluhan dari sejumlah pengusaha farmasi nasional.
“Kami sudah menerima beberapa masukan dari beberapa perusahaan obat bahwa bahan bakunya mereka ada yang naik,” ungkap Menkes kepada wartawan, Senin (8/6/2026) kemarin.
Kemenkes Gandeng Industri Farmasi Guna Redam Kenaikan Harga
Meski diterpa sentimen negatif kurs dolar, pria yang akrab disapa BGS ini menenangkan publik dengan menyebut bahwa harga obat di apotek tidak akan serta-merta melesat setinggi persentase kenaikan dolar.
Sebab, komponen pembentuk harga obat tidak melulu soal bahan baku impor, melainkan ada variabel biaya lokal seperti rantai distribusi, biaya pemasaran, hingga biaya operasional yang masih menggunakan mata uang Rupiah.
Saat ini, Kementerian Kesehatan sedang bergerak cepat melakukan kalkulasi riil bersama para pelaku industri farmasi tanah air guna meredam dampak inflasi obat.
“Saya sudah minta Ibu Dirjen, kan komponen harga obat selain bahan baku ada juga komponen biaya distribusi, marketing. Coba tolong dihitung angkanya. Sekarang sedang didiskusikan dengan para industri,” jelas BGS.
Menkes mencontohkan, andai nilai tukar dolar mengalami kenaikan hingga 20%, dampak akhir pada harga eceran obat ke konsumen dipastikan jauh lebih kecil karena hanya sebagian komponen biaya saja yang sensitif terhadap pergerakan mata uang asing tersebut.