Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda menunjukkan tren melandai setelah mengalami rangkaian erupsi intensif selama beberapa pekan terakhir. Di tengah jeda letusan tersebut, publik dihebohkan oleh fenomena visual unik di mana permukaan kawah GAK tampak membentuk pola membulat menyerupai telur ceplok.
Fenomena ini mendadak viral di media sosial setelah diunggah oleh akun Instagram @wxchasing. Tampak jelas gumpalan warna berbeda di bagian tengah genangan air kawah jika dilihat dari udara.
Kepala Pos Pemantauan GAK di Desa Hargo Pancuran, Suwarno, meluruskan bahwa pola menyerupai telur ceplok tersebut bukanlah lelehan material magma baru hasil letusan.
“Itu adalah genangan air di kawah GAK yang terkontaminasi oleh gas belerang serta erosi lapisan dinding kawah. Belerang memang umum ada di gunung api, namun pencampuran material dengan air di sana menciptakan warna khas yang terlihat seperti telur ceplok dari kejauhan,” terang Suwarno, Jumat (18/9/2026).
Erupsi Mereda Sejak 10 September
Berdasarkan catatan Pos Pengamatan Gunung Api (PGA), erupsi teranyar GAK terekam pada Kamis (10/9/2026) lalu pukul 09.10 WIB. Saat itu, letusan tercatat di seismogram dengan amplitudo maksimum 47 mm dan durasi 17 detik.
Sejak hari itu, tidak ada lagi lontaran abu vulkanik yang teramati dari kejauhan. Kendati demikian, pasokan energi di dalam perut gunung dipastikan belum sepenuhnya padam.
Perut Gunung Masih Bergolak: Tremor dan Kegempaan Tetap Terekam
Laporan pengamatan terbaru mencatat sejumlah aktivitas intrinsik yang menunjukkan bahwa organ vulkanik GAK masih sangat aktif:
-
Gempa Tremor Menerus (Microtremor): Dominan amplitudo 2 mm (rentang 1–7 mm).
-
Gempa Harmonik: 2 kali kejadian dengan durasi hingga 24 detik.
-
Gempa Low Frequency & Hybrid: Masing-masing terekam 1 kali dengan amplitudo hingga 28 mm.
“Walau letusan visual terhenti, kegempaan masih terus terekam, termasuk tremor menerus. Ini membuktikan bahwa dinamika di dalam tubuh gunung masih berjalan,” imbau Suwarno.
Status Level III (Siaga): Zona Bahaya Radius 3 Km
Saat ini kondisi visual puncak GAK lebih sering tertutup kabut tebal, ditambah perangkat CCTV pemantau di lokasi yang masih mengalami kendala teknis (non-aktif).
Pemerintah melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan status Gunung Anak Krakatau tetap berada di Level III (Siaga).
Masyarakat, nelayan, maupun wisatawan diimbau keras untuk tidak melanggar zona bahaya dan dilarang mendekati kawasan GAK dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Petugas mengingatkan agar situasi visual yang tenang tidak membuat warga lengah dari ancaman erupsi susulan yang bisa terjadi sewaktu-waktu.