WASHINGTON DC, AS — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah menuding adanya aksi vandalisme pada Kolam Refleksi Monumen Lincoln di Washington DC, yang baru saja selesai direnovasi senilai sekitar 14,7 juta dolar AS atau setara Rp230 miliar. Tuduhan tersebut memicu perhatian publik lantaran tidak disertai bukti resmi dari pihak berwenang.
Kolam refleksi yang berada di kawasan ikonik Lincoln Memorial Reflecting Pool itu disebut mengalami kerusakan setelah adanya dugaan tindakan perusakan serta gangguan pada kualitas air, termasuk persoalan teknis pasca-renovasi.
Klaim Vandalisme dan Penangkapan yang Belum Terverifikasi
Dalam unggahan di platform media sosial Truth Social, Trump menyebut pemerintah bersama kontraktor telah membahas langkah perbaikan lanjutan terhadap kondisi kolam tersebut.
“Kami bertemu dengan kontraktor hari ini,” tulis Trump, seraya menyebut kemungkinan pengurasan sebagian besar air untuk perbaikan.
Ia juga mengklaim adanya penindakan terhadap sejumlah pihak yang diduga terlibat.
“Banyak orang tambahan telah ditangkap terkait dengan vandalisme yang memalukan di Kolam Refleksi kami yang indah,” tulisnya lagi.
Namun hingga kini, tidak ada konfirmasi resmi dari Kepolisian Taman AS, Departemen Dalam Negeri, maupun Kantor Kejaksaan AS untuk Distrik Columbia terkait adanya penangkapan maupun temuan vandalisme sebagaimana yang disebutkan Trump.
Tidak Ada Bukti, Otoritas Masih Bungkam
Trump juga menyinggung dugaan tindakan ekstrem, termasuk klaim bahwa ada pihak yang memasukkan bahan kimia ke dalam kolam. Meski demikian, ia tidak memaparkan bukti pendukung atas pernyataan tersebut.
Pernyataan itu muncul di tengah situasi teknis pasca-renovasi, di mana pihak pekerja sebelumnya diketahui menggunakan hidrogen peroksida untuk mengendalikan pertumbuhan alga yang membuat air kolam berubah warna menjadi kehijauan.
Masalah Teknis Pasca-Renovasi
Proyek renovasi kolam refleksi ini sebelumnya diumumkan telah rampung pada 6 Juni oleh Trump. Namun tak lama setelahnya, muncul persoalan baru berupa pertumbuhan alga yang mengganggu tampilan air.
Upaya penanganan dengan bahan kimia kemudian justru diikuti oleh masalah lain, yakni lapisan cat di dasar kolam yang dilaporkan mengelupas dan bercampur dengan air.
Kondisi ini memperkuat dugaan bahwa persoalan yang terjadi tidak semata akibat vandalisme, melainkan juga berkaitan dengan aspek teknis dan kualitas pengerjaan proyek.
Bagian dari Agenda Penataan Ibu Kota
Renovasi kolam refleksi ini merupakan bagian dari rencana besar penataan Washington DC yang digagas Trump, termasuk sejumlah proyek lain seperti pembongkaran Sayap Timur Gedung Putih untuk pembangunan ballroom baru serta rencana pembangunan monumen lengkungan besar di dekat Arlington National Cemetery.
Program tersebut sebelumnya dipromosikan sebagai upaya mempercantik dan memperkuat identitas ibu kota Amerika Serikat, namun kini ikut menjadi sorotan akibat munculnya berbagai persoalan di lapangan.
Sorotan Publik dan Pertanyaan Transparansi
Hingga saat ini, pernyataan Trump terkait vandalisme masih menimbulkan tanda tanya di tengah minimnya penjelasan resmi dari lembaga terkait. Publik pun menunggu klarifikasi lebih lanjut apakah kerusakan yang terjadi benar merupakan tindakan kriminal atau bagian dari masalah teknis pasca-renovasi.
Di sisi lain, kontroversi ini kembali menambah daftar panjang perhatian terhadap proyek-proyek infrastruktur yang dikaitkan dengan agenda penataan ulang Washington DC di bawah kepemimpinan Trump, yang kerap menuai perdebatan antara aspek estetika, biaya, dan transparansi pelaksanaan.