JAKARTA – Pasukan Israel kembali melancarkan penembakan artileri berat di Lebanon selatan, menghantam daerah perbukitan Ali Taher meski gencatan senjata dengan Hizbullah baru diumumkan beberapa jam sebelumnya.
Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 47 orang dan melukai 97 lainnya sejak Jumat (19/6/2026), menurut pejabat kesehatan Lebanon. Kondisi ini menimbulkan keraguan atas keberlanjutan gencatan senjata yang diharapkan dapat menstabilkan perbatasan.
Seorang pejabat AS menyebut kepada Reuters, yang dilansir Sabtu (20/6/2026) bahwa Israel dan Hizbullah telah menyepakati gencatan senjata setelah eskalasi serangan Israel dalam beberapa hari terakhir. Namun, laporan lapangan menunjukkan pertempuran belum berhenti, dengan artileri terus menghantam Ali Taher, dekat Nabatieh, yang menjadi titik pertahanan Hizbullah.
Pejuang Hizbullah dilaporkan berhasil memukul mundur sejumlah serangan, termasuk insiden yang menewaskan empat tentara Israel dan menghancurkan sebuah tank Merkava.
Iran memperingatkan bahwa serangan berkelanjutan Israel dapat menggagalkan upaya diplomatik dengan Amerika Serikat. Wakil Menteri Luar Negeri Saeed Khatibzadeh mengatakan kepada Al Jazeera, “Iran siap melanjutkan diplomasi dengan Amerika Serikat – tetapi hanya dengan syarat Washington memastikan Israel mematuhi nota kesepahaman dan berhenti menyerang Lebanon.”