Seri MotoGP Ceko 2026 di Sirkuit Brno kembali menjadi mimpi buruk yang enggan berakhir bagi Fabio Quartararo. Pembalap andalan Monster Energy Yamaha itu harus menyudahi balapan secara prematur setelah mengalami kecelakaan (crash) fatal pada lap kedua dari total 21 lap yang diperlombakan.
Hasil minor ini memperpanjang akhir pekan yang menyedihkan bagi sang juara dunia 2021. Kondisi ini kian memperkuat rumor bahwa pembalap asal Prancis tersebut akan segera angkat kaki dari proyek Yamaha yang terus merosot, untuk bergabung dengan HRC (Honda) pada musim 2027 mendatang.
Moril Quartararo sebenarnya sudah berada di titik nadir sejak MotoGP Hungaria, di mana kala itu ia mengaku terpaksa membalap dengan sangat hati-hati hanya demi menghindari cedera.
Strategi Baru yang Berakhir Zonk
Di Brno, Quartararo mencoba mengubah pendekatannya setelah mengevaluasi hasil Sprint Race. Ia menyadari bahwa dirinya melakukan pengereman terlalu dini di lap-lap awal.
Meski sempat melakukan aksi saling salip yang agresif di batas maksimal dengan Brad Binder, Maverick Vinales, hingga Luca Marini, petualangannya hanya bertahan satu setengah lap sebelum akhirnya terjatuh.
Namun, Quartararo mengaku tidak menyesali keputusannya untuk tampil agresif. “Sejujurnya, saya hanya ingin menekan (push). Jika Anda benar-benar menekan, inilah yang terjadi (kecelakaan). Tapi saya lebih memilih cara ini daripada hanya bertahan di atas motor tapi melaju 1,5 detik lebih lambat,” tegasnya.
“Motor Ini Tidak Punya Traksi, Tenaga, dan Sulit Belok”
Pembalap berjuluk El Diablo ini membeberkan bahwa mengendarai motor Yamaha YZR-M1 versi 2026 jauh lebih berbahaya dan membingungkan dibanding versi 2025.
“Tahun lalu, saya tahu apa yang saya lakukan, tahu di mana batasnya, dan tahu kapan bisa menekan. Tapi tahun ini, saya tersesat dan tidak tahu di mana potensi motor ini,” keluh Quartararo.
Menurutnya, motornya kini tidak memiliki traksi yang baik, sulit menikung, dan kalah tenaga saat melintasi trek menanjak.
Quartararo bahkan menggambarkan aksinya saat menyalip Luca Marini di lap pertama seperti aksi “bunuh diri” hanya demi memperebutkan posisi ke-12.
Ke depan, Quartararo menegaskan akan mempertahankan mentalitas agresif ini, masa bodoh dengan hasil akhir yang akan menimpanya.
Jack Miller: “Ini Perasaan yang Sangat S*al!”
Frustrasi yang dirasakan Quartararo ternyata menular ke kubu Pramac Yamaha. Jack Miller juga merasakan kepedihan yang sama setelah penampilannya diobrak-abrik dan kalah cepat dari rekan setimnya sendiri, Toprak Razgatlioglu.
Miller mengaku sudah berkendara sekuat tenaga dan meminimalisir kesalahan, namun setiap kali mencoba melakukan late braking untuk mengejar Toprak, ia justru kehilangan kendali pada bagian depan motornya.
“Anda merasa sudah membalap dengan kemampuan terbaik hari ini, tetapi kenyataannya Anda masih tertinggal 30 detik di belakang. Ini adalah perasaan yang sangat s*al,” pungkas Miller dengan nada masygul.