JAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) menuntut pelajar tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memperkuat karakter dan wawasan kebangsaan untuk menghadapi perubahan besar di masa depan.
Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar, Jazuli Juwaini, menegaskan kemampuan beradaptasi menjadi kunci menghadapi era kecerdasan buatan (AI) yang terus mengubah berbagai aspek kehidupan.
Selain penguasaan teknologi dan literasi digital, pelajar juga perlu mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi. Keterampilan tersebut dinilai penting agar generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan inovasi dan peluang baru di masa depan.
Jazuli menekankan bahwa tujuan pendidikan tidak sebatas menghasilkan pencari kerja, melainkan melahirkan generasi yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Di tengah derasnya arus informasi dan pengaruh budaya global, penguatan karakter juga menjadi perhatian. Menurutnya, nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan harus tetap menjadi fondasi dalam membentuk kepribadian generasi muda.
”Dunia lima hingga sepuluh tahun ke depan akan berbeda. Karena itu, teruslah belajar, kuasai teknologi dan literasi digital, serta kembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi tanpa kehilangan akhlak dan jati diri.” katanya kepada wartawan.
Ia menilai identitas sebagai Muslim dan warga negara Indonesia merupakan dua nilai yang saling melengkapi. Karena itu, pelajar perlu menumbuhkan kebanggaan sebagai pribadi yang berakhlak mulia sekaligus menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dan semangat kebangsaan.
Dalam kesempatan tersebut, Jazuli juga memotivasi para siswa agar tidak menjadikan keterbatasan fasilitas maupun latar belakang daerah sebagai hambatan untuk meraih cita-cita. Menurutnya, kesempatan untuk berkembang terbuka bagi siapa saja yang memiliki kemauan belajar, bekerja keras, dan terus meningkatkan kualitas diri.
“Saya pernah belajar dalam keterbatasan seperti kalian. Karena itu, jangan jadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti bermimpi.” Pungkasnya.
Melalui pesan tersebut, para lulusan didorong menjadi generasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, memiliki daya saing global, mampu berpikir kritis, serta tetap berpegang teguh pada nilai-nilai moral, keagamaan, dan kebangsaan sebagai bagian dari jati diri bangsa.


