JAKARTA – Ketegangan antara Pakistan dan Afghanistan kembali meningkat setelah serangan udara Pakistan di tiga provinsi timur Afghanistan menewaskan 36 warga sipil dan melukai 163 lainnya. Wakil juru bicara pemerintah Taliban, Zabihullah Mujahid, menyebut aksi militer tersebut sebagai “tindakan agresi yang pengecut.”
Dilansir The Guardian, Senin (29/6/2026), Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, mengatakan operasi pada Minggu malam itu menargetkan kelompok teroris yang dituduh bertanggung jawab atas serangan mematikan di Karachi sehari sebelumnya, yang menewaskan tiga personel keamanan. Tarar menegaskan operasi dilakukan melalui “operasi darat berbasis intelijen” yang dilanjutkan dengan serangan udara di sepanjang perbatasan.
Pemerintah Afghanistan berulang kali membantah wilayahnya digunakan sebagai tempat persembunyian militan. Namun, Jamaat-ul-Ahrar, faksi pecahan Taliban Pakistan, mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Karachi. Tarar menyebut operasi terbaru menargetkan tempat persembunyian Jamaat-ul-Ahrar dan kelompok yang disebut Pakistan sebagai Fitna al-Khawarij.
Sejak Taliban berkuasa pada 2021, hubungan kedua negara semakin tegang. Konflik lintas batas sempat pecah pada Februari dengan pertempuran sengit dan serangan udara Pakistan yang menewaskan ratusan orang serta memaksa puluhan ribu warga mengungsi. Upaya mediasi dari China dan Arab Saudi sejauh ini gagal menghasilkan resolusi permanen, sementara perbatasan kedua negara sebagian besar ditutup sejak Oktober.