JAKARTA โ Bank Indonesia memperkuat kolaborasi dengan pemerintah pusat dan daerah untuk menjaga laju inflasi tetap stabil di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Langkah tersebut ditempuh setelah tekanan harga komoditas dunia masih membayangi prospek perekonomian nasional sepanjang 2026.
Sinergi kebijakan moneter dan fiskal dinilai menjadi faktor utama agar daya beli masyarakat tetap terjaga serta stabilitas ekonomi nasional terus terpelihara.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan koordinasi lintas lembaga terus diperkuat guna mengantisipasi dampak kenaikan harga global terhadap inflasi domestik.
โKami terus berkoordinasi pusat dan daerah menjaga inflasi karena harga global naik,โ ujar Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam Rapat Kerja bersama Badan Anggaran DPR RI yang dipantau secara daring di Jakarta, Selasa.
Menurut Perry, pengendalian inflasi yang efektif akan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan kebijakan fiskal dan moneter nasional.
โSehingga sama-sama inflasi itu terjaga, rakyatnya sejahtera dan fiskal moneter tetap kuat dan InsyaAllah tetap kuat,โ katanya.
Bank Indonesia menilai perkembangan inflasi nasional hingga Juni 2026 masih berada dalam jalur sasaran yang telah ditetapkan.
Inflasi Indeks Harga Konsumen pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,34 persen secara tahunan atau year on year.
Capaian tersebut dinilai mencerminkan efektivitas sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia bersama pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Stabilitas harga juga ditopang oleh implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional yang semakin diperkuat di berbagai wilayah.
Konsistensi kebijakan moneter Bank Indonesia turut menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan inflasi sepanjang tahun berjalan.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso optimistis inflasi tetap berada dalam sasaran bank sentral.
โKe depan, Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen (rentang 1,5-3,5 persen) pada 2026 dan 2027,โ kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi bulanan Juni 2026 mencapai 0,44 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Sementara secara tahunan, inflasi nasional tercatat sebesar 3,34 persen.
Inflasi inti selama Juni berada di level 0,23 persen secara bulanan atau relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,22 persen.
Kenaikan harga komoditas global masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi perkembangan inflasi inti meski ekspektasi inflasi tetap terkendali.
Secara tahunan, inflasi inti meningkat menjadi 2,76 persen dibandingkan posisi Mei 2026 yang berada di level 2,59 persen.
Pada kelompok pangan bergejolak atau volatile food, inflasi bulanan tercatat sebesar 0,14 persen.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang mencapai 0,22 persen.
Komoditas bawang merah, bawang putih, dan beras menjadi penyumbang utama tekanan harga pada kelompok pangan bergejolak.
Penurunan produksi di daerah sentra, meningkatnya biaya distribusi, serta berakhirnya musim panen raya menjadi penyebab utama kenaikan harga komoditas tersebut.
Meski demikian, inflasi tahunan kelompok volatile food turun menjadi 5,58 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 6,24 persen.
Penurunan itu menunjukkan tekanan harga pangan mulai mereda meski risiko dari gejolak harga global masih perlu terus diantisipasi.***