TEHERAN, IRAN – Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dikabarkan kembali berada dalam pengawasan ketat aparat keamanan Iran setelah dugaan kontaknya dengan badan intelijen Israel, Mossad, mencuat ke publik. Informasi tersebut diungkap dalam laporan The New York Times yang terbit pada Senin, memunculkan babak baru dalam dinamika politik dan keamanan di Republik Islam Iran.
Menurut laporan tersebut, Ahmadinejad kini menjalani tahanan rumah di bawah pengawasan unit intelijen Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC). Kabar ini sekaligus mengakhiri spekulasi panjang mengenai keberadaan mantan presiden yang sempat menghilang dari sorotan publik selama beberapa bulan terakhir.
Laporan itu menyebutkan bahwa Ahmadinejad sebenarnya telah berada di bawah pembatasan ketat aparat keamanan Iran sejak pertengahan 2024. Namun situasi berubah drastis setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran meningkat pada awal 2026.
Saat serangan udara Amerika Serikat dan Israel menghantam sejumlah titik di Teheran, sebuah rudal dilaporkan jatuh di dekat kediaman Ahmadinejad. Serangan tersebut disebut menewaskan para personel IRGC yang bertugas mengawalnya.
Meski mengalami luka ringan, Ahmadinejad dilaporkan berhasil selamat dan sempat tidak berada dalam kendali aparat keamanan Iran. Sejak saat itu, keberadaannya menjadi misteri dan memunculkan berbagai spekulasi.
Sejumlah orang dekat Ahmadinejad bahkan sempat menyatakan bahwa mantan presiden itu masih hidup, tetapi tidak diketahui lokasi pastinya.
Kini, berdasarkan laporan The New York Times , IRGC disebut telah kembali menemukan dan mengamankan Ahmadinejad sebelum menempatkannya dalam tahanan rumah menyusul munculnya dugaan hubungan dengan Mossad.
Dugaan Operasi Intelijen Israel
Laporan tersebut juga mengungkap dugaan operasi intelijen Israel yang disebut telah berlangsung selama bertahun-tahun dengan target Ahmadinejad.
Mengutip berbagai media Israel, termasuk *The Jerusalem Post*, operasi itu disebut bertujuan mendekati Ahmadinejad agar bersedia bekerja sama sebagai aset intelijen.
Pada tahap berikutnya, skenario tersebut bahkan diklaim membuka kemungkinan menjadikan Ahmadinejad sebagai figur yang dapat memimpin Iran apabila rezim saat ini mengalami kejatuhan.
Sementara itu, The Times of Israel yang mengutip investigasi The New York Times melaporkan bahwa Ahmadinejad diduga pernah melakukan pertemuan dengan kepala Mossad sebagai bagian dari operasi tersebut.
Di sisi lain, harian *Haaretz* juga mengklaim tengah menyiapkan investigasi yang mengulas lebih jauh mengenai operasi perekrutan mantan Presiden Iran itu oleh badan intelijen Israel.
Hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Iran maupun pihak Mossad terkait tuduhan tersebut.
Dikaitkan dengan Skenario Pascaperang
Laporan *The New York Times* juga menghubungkan dugaan operasi tersebut dengan strategi yang sebelumnya pernah diungkap media yang sama pada Mei lalu.
Dalam laporan terdahulu disebutkan adanya pembahasan di kalangan tertentu mengenai kemungkinan menghadirkan kembali Ahmadinejad sebagai pemimpin Iran apabila terjadi perubahan rezim setelah konflik bersenjata.
Skenario itu dikaitkan dengan rencana pascaperang yang berkembang setelah meningkatnya eskalasi militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Namun, menurut sejumlah pejabat Amerika Serikat yang dikutip *The New York Times*, rencana tersebut disebut tidak pernah berjalan sesuai harapan.
“Rencana itu dengan cepat lepas kendali,” demikian kutipan pejabat Amerika Serikat yang dimuat *The New York Times*.
Muncul di Tengah Memanasnya Konflik Regional
Mencuatnya laporan mengenai Ahmadinejad terjadi ketika ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat.
Amerika Serikat dilaporkan masih melanjutkan operasi militernya terhadap sejumlah target di Iran. Sebagai balasan, Iran disebut meluncurkan rudal balistik yang diarahkan ke pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait.
Situasi tersebut memperbesar perhatian terhadap aktivitas intelijen di kawasan, terutama setelah berbagai laporan mengenai dugaan infiltrasi Mossad ke dalam struktur politik Iran.
Media Israel, i24 News, bahkan menyebut operasi yang dikaitkan dengan Ahmadinejad sebagai sebuah “upaya kudeta yang gagal.”
Pernah Menyinggung Infiltrasi Mossad
Menariknya, jauh sebelum laporan terbaru ini muncul, Ahmadinejad sendiri pernah berbicara mengenai kemampuan intelijen Israel menembus institusi Iran.
Dalam wawancara dengan CNN pada 2024, mantan presiden itu mengungkapkan kekhawatirannya mengenai infiltrasi yang dilakukan Mossad ke dalam struktur keamanan negaranya.
Pernyataan tersebut kini kembali menjadi sorotan setelah berbagai laporan media internasional mengaitkan namanya dengan dugaan operasi intelijen Israel.
Meski demikian, hingga berita ini ditulis belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Iran, IRGC, maupun Mossad yang mengonfirmasi isi laporan *The New York Times*. Dengan demikian, berbagai informasi mengenai dugaan kontak Ahmadinejad dengan badan intelijen Israel masih sebatas laporan media internasional dan belum dapat diverifikasi secara independen oleh seluruh pihak terkait.