JAKARTA – Pemerintah Iran secara resmi mengundang Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan kunjungan kenegaraan ke Teheran. Undangan tersebut telah diterima dan disampaikan kepada Presiden, di tengah menguatnya komunikasi bilateral Indonesia-Iran yang juga menyentuh isu strategis terkait keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Informasi tersebut diungkapkan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI) Ahmad Muzani kepada awak media pada Selasa (14/7/2026). Menurutnya, pemerintah Iran berharap Presiden Prabowo dapat melakukan kunjungan resmi ke ibu kota negara tersebut sebagai bagian dari penguatan hubungan diplomatik kedua negara.
“Pemerintah Iran mengundang Presiden Republik Indonesia untuk bisa berkunjung ke Teheran dan sudah kami sampaikan kepada Pak Prabowo,” kata Muzani.
Undangan tersebut muncul di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, khususnya menyangkut jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz yang menjadi salah satu lintasan penting distribusi energi dan perdagangan global.
Meski tidak menjadi agenda utama yang diumumkan, Muzani mengakui isu Selat Hormuz turut menjadi bagian dari komunikasi antara Indonesia dan Iran. Namun, ia menegaskan bahwa pembahasan teknis mengenai persoalan tersebut lebih banyak menjadi kewenangan kementerian luar negeri masing-masing negara.
“Hal itu juga dibicarakan tentang distribusi kapal-kapal Indonesia bisa ke Selat Hormuz. Tapi itu lebih banyak dibicarakan oleh Menlu saya kira, ketika Menlu dan Menlu bertemu,” ujarnya.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa selain membuka peluang kunjungan tingkat kepala negara, kedua negara juga tengah menjajaki komunikasi mengenai kelancaran aktivitas pelayaran Indonesia di kawasan yang memiliki nilai strategis bagi perdagangan internasional tersebut.
Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu jalur laut paling vital di dunia karena menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi lintasan utama ekspor minyak dari sejumlah negara Timur Tengah. Setiap dinamika keamanan di kawasan itu berpotensi memengaruhi distribusi energi maupun aktivitas pelayaran internasional, termasuk kapal-kapal yang membawa komoditas menuju maupun dari Indonesia.
Karena itu, komunikasi diplomatik antara Indonesia dan Iran dinilai penting untuk memastikan kepentingan nasional Indonesia, khususnya terkait keamanan pelayaran dan kelancaran distribusi barang, tetap terjaga.
Meski undangan resmi telah diterima, Muzani mengaku belum mengetahui apakah Presiden Prabowo akan memenuhi undangan tersebut. Hingga kini belum ada keputusan maupun jadwal kunjungan yang diumumkan pemerintah.
“Saya belum tahu,” kata Muzani saat ditanya mengenai respons Presiden terhadap undangan tersebut.
Apabila kunjungan tersebut terealisasi, pertemuan Presiden Prabowo dengan pemerintah Iran diperkirakan akan menjadi momentum penting dalam memperkuat hubungan bilateral Indonesia-Iran. Selain membahas kerja sama politik dan diplomasi, kedua negara juga berpeluang memperluas pembicaraan di bidang ekonomi, perdagangan, investasi, hingga keamanan maritim.
Pemerintah Indonesia sendiri selama ini mendorong penyelesaian berbagai persoalan kawasan melalui jalur diplomasi serta menjaga hubungan baik dengan seluruh negara di Timur Tengah. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari politik luar negeri bebas aktif yang terus dijalankan Indonesia dalam merespons dinamika geopolitik global.