BOGOR – Keberhasilan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya ditentukan oleh ketepatan distribusi makanan, tetapi juga oleh kualitas layanan yang mampu menjawab kebutuhan dan preferensi penerima manfaat. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bantarjati 4, Kota Bogor, yang terus menghadirkan inovasi menu sekaligus membuka ruang komunikasi dengan masyarakat sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu pelayanan. Dalam pelaksanaan Program MBG ini ditinjau langsung Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, saat melakukan inspeksi mendadak ke SPPG Bantarjati 4, Jumat (24/7).
Sudaryono meninjau secara langsung proses pengolahan makanan, kesiapan dapur, hingga mekanisme distribusi makanan kepada ribuan penerima manfaat. Menurut Sudaryono, keberhasilan Program MBG sangat bergantung pada komitmen setiap SPPG dalam menjaga kualitas makanan, kebersihan dapur, serta kemampuan beradaptasi terhadap kebutuhan di lapangan. Karena itu, evaluasi dan inovasi harus menjadi budaya kerja yang terus dikembangkan.
“Kami datang untuk melihat kondisi sebenarnya di lapangan, menerima masukan, dan memastikan pelayanan berjalan sesuai standar. Apa yang sudah baik tentu kami apresiasi, sementara yang masih perlu diperbaiki akan segera kami tindak lanjuti agar kualitas layanan terus meningkat,” ujar Sudaryono.
Kepala SPPG Bantarjati 4, Didan Yehezkiel Bima Putra, menjelaskan bahwa saat ini melayani 2.375 penerima manfaat. Dalam hal ini, SPPG Bantarjati 4 terus berupaya menyajikan makanan yang memenuhi standar gizi sekaligus menarik bagi anak-anak melalui variasi menu yang terus diperbarui.
“Alhamdulillah, sekolah-sekolah yang kami layani memberikan respons yang sangat baik terhadap Program MBG. Salah satu upaya yang kami lakukan adalah terus berinovasi dalam penyusunan menu agar anak-anak tidak merasa bosan dan tetap menikmati makanan bergizi setiap hari,” ujarnya.
Dalam waktu dekat, SPPG Bantarjati 4 juga berencana menghadirkan menu baru dengan sumber protein hewani berupa daging sapi. Menu tersebut akan dipadukan dengan lauk nabati dan buah segar sesuai standar gizi yang berlaku.
“Rencananya pada awal pekan depan kami akan menyajikan menu menggunakan daging sapi sebagai salah satu sumber protein. Untuk lauk pendamping akan disesuaikan dengan perhitungan kebutuhan gizi dan pagu anggaran yang telah ditetapkan sehingga kualitas menu tetap terjaga,” jelas Didan.
Selain memperhatikan variasi menu, SPPG Bantarjati 4 juga mengembangkan pola komunikasi yang lebih terbuka dengan masyarakat. Melalui akun media sosial resmi, masyarakat, sekolah, maupun orang tua dapat menyampaikan masukan, saran, maupun aspirasi terkait pelaksanaan Program MBG.
“Kami memiliki media sosial Instagram dan TikTok yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk memberikan masukan maupun menyampaikan usulan terkait menu. Kami ingin pelayanan ini terus berkembang melalui komunikasi yang baik dengan seluruh pihak,” katanya.
Pendekatan tersebut mendapat apresiasi dari Kepala BGN. Menurut Sudaryono, keterbukaan terhadap masukan merupakan bagian penting dari upaya membangun tata kelola Program MBG yang adaptif dan berorientasi pada peningkatan kualitas layanan.
Ia menegaskan bahwa BGN mendorong setiap penyelenggara SPPG untuk tidak hanya memenuhi standar operasional, tetapi juga aktif melakukan evaluasi terhadap pelayanan yang diberikan.
“Kita harus terus mendengarkan masukan dari masyarakat, dari sekolah, maupun dari penerima manfaat. Dengan begitu, setiap kekurangan dapat segera diperbaiki dan pelayanan kepada masyarakat akan semakin baik,” tutup Sudaryono.