Kehadiran blok BRICS dalam lanskap politik-ekonomi global kian memperluas tata kelola lingkungan hidup dunia yang lebih representatif dan inklusif. Dalam Pertemuan Menteri Lingkungan Negara-Negara Anggota BRICS di New Delhi, India, Selasa (18/8/2026), Indonesia secara tegas mendorong pentingnya mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam strategi mitigasi krisis iklim global.
Forum tingkat tinggi yang dibuka oleh Menteri Lingkungan, Kehutanan, dan Perubahan Iklim India, Shri Bhupender Yadav, ini dihadiri oleh perwakilan dari 10 negara anggota BRICS.
Menteri Lingkungan Hidup RI, Jumhur Hidayat, yang hadir memimpin Delegasi Indonesia, menyuarakan keprihatinan mendalam atas sikap sejumlah negara maju ber-ekonomi besar yang justru melarikan diri dari tanggung jawab kolektif penanganan polusi dan perubahan iklim.
“Sangat disayangkan ada kekuatan ekonomi besar yang memilih mundur dari komitmen global, padahal bobot ekonomi mereka terus menyumbang porsi emisi karbon terbesar di dunia. Bagi Indonesia, cara kita mengelola sumber daya alam dan mencegah degradasi lingkungan akan menentukan keberlanjutan masa depan manusia,” tegas Jumhur.
Benteng Keanekaragaman Hayati dan Benteng Pesisir Dunia
Dalam paparannya, Jumhur mengingatkan panggung internasional bahwa Indonesia merupakan rumah bagi salah satu megabiodiversitas terkaya di bumi. Berada di jantung Segitiga Karang dunia, Indonesia mengayomi lebih dari 300 ribu spesies, menyumbang 23% hutan mangrove global, 16% spesies ikan laut, serta 10% spesies karang dunia.
Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau di mana 60 persen penduduknya bermukim di wilayah pesisir, Indonesia berada di garis terdepan ancaman kenaikan permukaan air laut dan cuaca ekstrem.
“Ancaman perubahan iklim bagi Indonesia bukanlah risiko fiksi masa depan, melainkan realitas hari ini yang dapat merusak hasil pembangunan dan menghempaskan masyarakat rentan kembali ke garis kemiskinan. Karena itu, adaptasi iklim adalah pilar utama kemakmuran nasional yang telah kami tuangkan dalam Rencana Adaptasi Nasional 2026–2030 demi menyongsong Visi Indonesia Emas 2045,” paparnya.
Unjuk Gigi Tiga Kearifan Adat Nusantara
Guna menjawab tantangan iklim secara holistik, Indonesia menawarkan solusi yang menggabungkan kemajuan sains mutakhir dengan kekayaan ilmu tradisional yang teruji zaman. Jumhur memperkenalkan tiga model pengelolaan lingkungan berbasis adat dari Nusantara yang sukses menjaga keseimbangan ekosistem:
-
Sistem Subak (Bali): Tata kelola irigasi pertanian tradisional yang memadukan keadilan pembagian air, gotong royong warga, dan prinsip spiritual.
-
Sasi Lompa (Maluku): Tradisi hukum adat penangkapan ikan berkala guna menjaga keberlanjutan biota laut dan ekosistem perairan.
-
Awig-Awig (Bali): Aturan dan hukum adat masyarakat lokal dalam menjaga kelestarian dan ketertiban lingkungan hidup.
“Praktik-praktik adat ini membuktikan bahwa hidup selaras dengan alam bukan sekadar warisan budaya, melainkan alat mitigasi iklim berbasis masyarakat yang sangat ampuh dalam mengelola air dan sumber daya alam,” pungkas Jumhur.
Agenda diplomasi dua hari tersebut turut diperkuat oleh jajaran pejabat Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), di antaranya Deputi PPI dan TKNEK Ary Sudjianto, Direktur Kebakaran Lahan Dasrul, Tenaga Ahli Menteri Teguh Santosa, serta Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) KBRI New Delhi Yudo Sasongko.




